Desain Layaknya Bandara, Harga Tergantung Tinggi Bed

Hotel Kapsul, Alternatif Pelancong Single

593

RADARSEMARANG.COM Penginapan menjadi salah satu hal yang wajib masuk list ketika sedang bepergian atau traveling. Ada berbagai macam pilihan. Termasuk hotel kapsul yang menjadi favorit para backpacker.

HOTEL Kapsul memang menjadi incaran bagi para pelancong yang bepergian seorang diri. Selain simple, harga yang dipatok pun terbilang tidak bakal menguras kantong. Di Semarang, ada sejumlah hotel kapsul sebagai tempat persinggahan sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Ada Sleep & Sleep di Jalan Imam Bonjol, The Capsule di sekitaran perempatan Jalan Gajahmada dengan Jalan Depok, serta beberapa hotel kapsul lainnya.

Jawa Pos Radar Semarang berkesempatan menjajal salah satu hotel tersebut. Memasuki Sleep & Sleep, penerima tamu langsung menjelaskan konsep hotel, yang mana tamu akan tidur satu ruangan dengan tamu lainnya. Maklum, tidak sedikit yang mengira hotel kapsul berbentuk layaknya hotel pada umumnya. Nyatanya, dalam satu ruangan terdapat sejumlah kotak-kotak sebagai tempat tidur para tamu. ”Ada yang kaget saat tahu, ternyata modelnya satu ruangan dengan banyak orang. Makanya dijelaskan di awal,” jelas Widi, penerima tamu.

Tempatnya, menjadi satu dengan gedung Universitas AKI Semarang atau lebih dikenal dengan sebutan Unaki. Hotel ini memanfaatkan lantai paling bawah dari bangunan Unaki. Widi menjelaskan, kepemilikan hotel kapsul ini memang menjadi satu dengan empunya bangunan Unaki Semarang. ”Yang kerja di sini kebanyakan juga dari mahasiswa sini,” terangnya sambil mengantarkan menuju kamar.

Di sepanjang jalan menuju kamar, tamu disuguhi ornamen yang lekat dengan pesawat terbang dan bandara. Mulai dari tempat bersantai berupa kursi layaknya di kabin pesawat, lantai yang dilukis macam landasan pesawat terbang, hingga petunjuk arah yang mirip di bandara. Semua konsep ini didominasi warna kuning dan putih. ”Biar tamu nyaman saja dan ada ciri khas,” terangnya sembari menunjukkan lokasi loker wartawan koran ini.

Para tamu disediakan loker untuk menyimpan barang bawaan. Maklum, tempat tidur hanya pas untuk satu orang. Ditambah barang bawaan, tentu akan menjadi sesak. Ukuran kamar atau sebut saja bilik ini, memang hanya 10 jengkal tangan atau sekitar 2 meter dengan tinggi kurang dari 1,5 meter. Di dalamnya, ada satu stop kontak yang dapat digunakan untuk ngecharge telepon genggam. Satu saklar beserta lampunya.

Dalam satu ruangan ada sekitar 48 bilik yang tersusun 3 level. Masing-masing bilik dipisahkan dengan sekat. Sepertinya terbuat dari jaring besi yang kemudian ditutup dengan korden. Penutup luarnya pun hanya menggunakan korden. ”Selamat istirahat,” ujar Widi mempersilakan untuk menikmati kasur putih dan satu bantal yang tersedia. ”Kalau membutuhkan selimut dan lain-lain, bisa sewa,” imbuhnya.

Dengan tempat tidur yang hanya disekat oleh sekat tipis dan tirai, otomatis segala suara dari masing-masing bilik bisa didengar. Mulai dari suara halaman kertas yang mulai dibalik, suara sendawa, hingga kentut menjadi hal lazim ketika tidur secara masal. Salah gerak pun, akan menimbulkan bunyi, ketika tanpa sengaja menendang pembatas.

Penerima tamu lainnya, Mega mengatakan, Gate C (ruangan C) memang paling banyak biliknya. Ada 3 ruangan di hotel kapsul ini. Gate A dan B masing-masing ada 30 bilik dan Gate C yang berisi 48. ”Dibagi pria, wanita, dan untuk yang grup. Tapi kalau pas rame, kadang juga dicampur,” jelasnya.

Masing-masing ruangan ada kamar mandi yang terdiri atas beberapa tempat mandi dengan shower, 3 WC duduk dan satu kaca besar lengkap dengan washtafel.

Takut Ketinggian, Pilih Bed Level Bawah

Menginap di hotel kapsul menjadi pengalaman pertama Steven. Pria asal Bogor ini, sengaja memilih hotel kapsul karena harganya murah. Ia datang bersama enam kawannya. Satu di antaranya perempuan.

Steven memilih level 3 dengan harga paling murah. Awalnya ia mengira level 3 adalah kamar di lantai tiga. Dengan harapan, ia bisa menikmati pemandangan Kota Semarang. Rupanya ia keliru. Pasalnya, level 3 adalah bed yang berada pada tumpukan paling atas. ”Kami pilih bed yang level 3 semua, biar sama haha,” ujarnya sedikit tertawa.

Dua temannya memilih menukar bed paling bawah dengan menambah biaya Rp 10 ribu. Harga tiap bed memang selisih Rp 10 ribu tiap levelnya. Level pertama atau paling bawah dipatok dengan harga 59K, level dua seharga 49K dan paling atas 39K. ”Tinggi banget itu yang tiga. Yang takut ketinggian (acrophobia) memang cocoknya milih yang paling bawah,” ujar pria yang datang ke Semarang untuk menghadiri pesta ulang tahun sahabatnya ini. ”Apalagi naiknya masih pakai tangga manual,” ujarnya.

Harga tersebut tidak termasuk untuk selimut, handuk dan perlengkapan mandi.  Hotel menyediakan sendiri dengan sistem sewa. Sepuluh ribu untuk setiap itemnya. Jika disewa dalam paket, tamu hanya cukup merogoh kocek 20 ribu rupiah saja.

Diminta bercerita pengalaman menginap di hotel kapsul, ia mengatakan bahwa tempat tidur di hotel ini sudah cukup menyenangkan. Hanya saja, ia sedikit kecewa dengan kamar mandi yang airnya sempat habis. ”Tadi ngantre, kemudian suruh nunggu diisi 15 menit. Tapi setelah diisi malah airnya kotor,” ujarnya. (sga/ida)

Privasi Kurang Terjaga

PENGHOBI traveling asal Semarang, Afi, membagikan sedikit pengalamannya menginap di hotel kapsul. Mahasiswi Pascasarjana Undip ini membeberkan, hotel kapsul memang menawarkan harga yang lebih murah dibandingan hotel pada umumnya.

Bagi mereka yang mencari hotel murah agar alokasi dana dapat dialihkan untuk pergi ke tempat yang lebih banyak lagi, hotel kapsul menjadi salah satu solusi. ”Memang cocok untuk mereka yang menekan biaya perjalanan,” ujarnya.

Sampai di sini, Afi mengakui bahwa hotel kapsul memiliki keunggulan di bidang harga. Hanya saja, untuk hal lainnya ia belum bisa mendapatkan di hotel kapsul. Utamanya dalam hal privasi. Beberapa hotel kapsul memang hanya menggunakan korden sebagai penutup.

”Menurut saya, kalau dari segi privasi masih kurang ya. Karena untuk ganti baju saja susah. Harus bawa baju ganti ke kamar mandi dan harus ambil dulu di loker,” ujarnya.

Sementara itu, mengenai ukuran, untuk dirinya sendiri sudah cukup. Hanya saja, ia katakan, hotel kapsul akan menjadi PR tersendiri bagi mereka yang berperawakan jangkung. Karena ukurannya yang cukup kecil.

”Untuk beribadah juga tidak bisa dilakukan di kamar itu. Jadi kamar benar-benar hanya digunakan untuk tidur saja. Dan paling pol untuk baca buku sambil senderan,” ujarnya.

Senada, Echi Wulandari, penghobi traveling lainnya menilai hotel kapsul memang murah dan sangat cocok untuk liburan backpacking. Hanya saja, kamar yang sempit menurutnya membatasi gerak sehingga kurang leluasa. ”Enaknya murah dan praktis. Nggak ribet lah ya pastinya. Tapi nggak enaknya ya itu tadi, sempit,” kata perempuan yang sudah menjelajah beberapa negara ini.

Lebih lanjut, ia menambahkan, belum tentu semua orang bisa tidur dengan banyak orang dalam satu ruangan. Sebab, masing-masing orang memiliki kebiasaan tidur yang berbeda. ”Kalau yang nggak biasa, hal ini bisa membuat nggak nyaman. Misal dia kasak-kusuk tengah malam. Yang seperti ini, agak keganggu sih,” ujarnya.

Selama mencoba hotel kapsul, satu hal lagi yang dirasa kurang membuat nyaman adalah ketika harus menggunakan kamar mandi secara bersama-sama. Sehingga, ia harus antree untuk mandi. Harus bangun lebih awal untuk bisa mendapat giliran mandi pertama. ”Selain itu, yang aku dapat, kasurnya nggak empuk. Nggak seperti di hotel. Tapi itu bukan di Semarang. Tapi bisa jadi hotel kapsul lain ada yang dikasih kasur tebal,” bebernya.

Meskipun demikian, baik Afi maupun Echi sepakat bahwa menginap di hotel kapsul bisa menambah banyak kenalan. Bisa menjadi salah satu solusi, ketika sedang mencari informasi terkait referensi tempat yang asyik untuk disinggahi. (sga/ida)