PKL Karangtempel Siap Bangun Shelter Sendiri

508

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Para pedagang kaki lima (PKL) Barito di wilayah Karangtempel, Semarang Timur siap membangun shelter secara swadaya di lahan sewa kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Saat ini, pihak Dinas Perdagangan masih menyiapkan lahan tersebut. Ditargetkan Senin (3/9) mendatang, para PKL sudah bisa mulai membangun shelter.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fajar Purwoto menyampaikan apresiasi kepada PKL Karangtempel yang beritikad baik membantu percepatan proses normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) yang merupakan proyek nasional.Hal itu disampaikan Fajar saat digelar sosialisasi, Kamis (30/8).

Menurut Fajar, sosialisasi ini digelar sebagai tindaklanjut kesepakatan antara PKL Karangtempel yang diwakili Paguyuban Karya Mandiri bersama Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, beberapa waktu lalu. Para pedagang sepakat pindah ke MAJT.“Karena selama ini kan mereka semua yang menyampaikan hanya dari paguyuban. Sehingga hari ini (kemarin, Red) secara resmi kita sampaikan secara langsung ke para pedagang langkah-langlah kami,” ungkap Fajar saat sosialisasi di Balai Kelurahan Karangtempel, Semarang Timur.

Fajar kembali menjelaskan, nantinya para PKL Karangtempel yang berjumlah 536 orang akan menempati lahan sewa di MAJT seluas 1,2 hektare. Lahan tersebut disewa Pemkot Semarang untuk tiga tahun ke depan. “Jadi, nanti mulai 2019, 2020 dan 2021. Sekarang ini masih dalam proses pengerasan lahan. Kami targetkan selesai minggu ini. Supaya Senin (3/9) pedagang mulai bisa bangun shelter,” ujarnya

Ia juga mengapresiasi kesediaan para PKL Karangtempel yang secara swadaya membangun shelter di lahan relokasi. Namun demikian, Fajar mengklaim pihaknya juga turut ambil bagian dalam konsep pembangunan shelter.

Menurut dia, ratusan PKL tersebut ditargetkan akan mulai pembongkaran pada akhir September mendatang. Sehingga tidak menghambat pengerjaan normalisasi sungai BKT yang ditargetkan selesai pada Desember. “Ini kan pengerasan terus dilakukan, saya harapkan 6 September nanti sudah mulai membangun di lokasi MAJT,” katanya.

Selain itu, Fajar mengklaim PKL dari Bugangan dan Rejosari berjumlah sedikitnya 65 PKL juga siap untuk bergabung dengan PKL Karangtempel di lahan sewa MAJT. Sedangkan PKL Mlatiharjo akan menempati Pasar Barito Baru atau Pasar Klithikan Penggaron.

Fajar membeberkan, sebanyak 95 PKL Mlatiharo akan pindah ke Penggaron. Jumlah ini bertambah dari hitungan awal hanya 70 PKL. Hal ini disiasati oleh dinas dengan menempatkan 80 PKL Mlatiharjo di shelter yang sedang dibangun. “Sementara nanti yang 15 PKL ditempatkan di di bagian bawah kuliner atau bagian dalam pasar. Tidak ada beda, nanti juga kami bangunkan secara permanen,” tegasnya.

Di sisi lain, Fajar mengharapkan dukungan dari DPRD Kota Semarang berupa persetujuan untuk menggunakan dana APBD. “Jadi, tugas kami sekarang akan menata semua yang swadaya, nanti dengan dibantu dana dari APBD. Mudah-mudahan dari DPRD nanti dapat mendukung apa yang sudah kami rencanakan,” harapnya.

Ketua Paguyuban Karya Mandiri Karangtempel, Rochmat Yulianto, mengakui para pedagang sudah setuju membangun shelter/kios di lahan sewa MAJT secara swadaya. Namun demikian, pihaknya mengklaim memiliki jadwal pemindahan yang juga disepakati oleh pedagang.
“Menurut schedule kami, karena harus membuat shelter sendiri, maka kami rencanakan pindah akhir Oktober atau awal November. Kalau meleset ya awal November sekitar minggu pertama,” terangnya.

Rochmat berdalih, schedule yang telah disusun tersebut berdasar kesepakatan pedagang. Lamanya rencana boyongan, disebut Rochmat, lantaran para PKL Karangtempel butuh waktu untuk berkemas dan mengumpulkan dana swadaya pembangunan shelter. “Nanti kami perkirakan luasan setiap shelter 3×5 meter persegi, karena luasan lahannya 1,2 hektare,” katanya.
Ke depan, pihaknya belum dapat memastikan apakah akan menyepakati opsi yang ditawarkan oleh Pemkot Semarang untuk menempati lahan di kawasan Sawah Besar. Menurutnya, para pedagang memiliki opsi sendiri. “Opsi itu di tanah negara di Kecamatan Gayamsari yang memang milik PU Jasamarga. Tetapi itu dipikirkan sambil jalan, tahun depan,” ujarnya. (tsa/aro)