Pemberkatan Alam Natal Petani

459

MUNGKID—Umat Khatolik lereng Gunung Merapi merayakan Natal bernuansa alam. Jemaat yang mayoritas bekerja sebagai petani melakukan pemberkatan terhadap terhadap air dan alat pertanian.
Ratusan jemaat Gereja Stasi Tangkil Santo Yosep Desa Ngar­gomulyo Kecamatan Dukun juga mengenakan pakaian khas petani. Tak ketinggalan peralatan pertanian seperti cangkul, sabit, traktor turut dibawa serta. Prosesi yang dipimpin Romo Yoseph Nugroho Tri Sumartono Pr dimulai dengan pengambilan air suci di Sendang Waringin yang terletak di ujung dusun di kaki Gunung Merapi. Di lokasi itu, para romo terlebih dahulu melakukan pemberkatan di mata air itu.
Oleh rombongan air kemudian diarak melalui jalan setapak menuju gereja Santo Yosep yang berjarak satu kilometer. ”Air dari Sendang Waringin yang diwariskan secara turun-temurun harus dilestarikan. Bagaimana pun, kita hidup dari air, tanah dan angin dari Tuhan yang dialirkan ke Merapi,” kata Romo Yoseph.
Oleh warga, air berkah yang ditampung di bilah-bilah bambu serta botol bekas dipercaya memiliki khasiat bagi pribadi maupun lingkungan. Saat pemberkatan, percikan air suci ke alat-alat pertanian diyakini sebagai penyuntik semangat para petani dalam mengolah alam secara bijak. ”Agar bibit-bibit tanaman ini terbebas dari penyakit. Terhadap rojo koyo (ternak), supaya berkembang biak dan memberi manfaat,” lanjutnya di lokasi pemberkatan.
Tak hanya bibit, sabit, atau cangkul saja yang diberkati dengan air suci. Percikan air itu juga tercurah ke puluhan sepeda motor milik para petani setempat, saat Romo Yoseph dan rombongan berkeliling memberi berkat.
Nuansa harmonis antarumat beragama juga terlihat dalam misa Natal tani di Dusun Tangkil itu. Sebuah kelompok rebana dari pondok pesantren setempat turut meramaikan acara.
Tetua Dusun Tangkil, Maryono mengatakan, prosesi pemberkatan alat pertanian yang terkemas dalam misa Natal merupakan bentuk kepasrahan umat kepada Tuhan. Bagi penduduk di desa yang terletak 7 kilometer dari puncak Merapi ini, lelaku diri dan keseharian tak pernah lepas dari alam. Prosesi misa di dusun ini berlangsung khidmat dan tenang, meski tanpa dijaga ketat dari personel aparat.
“Kami hidup bergantung dari pertanian. Alam yang diciptakan Tuhan patut dijaga. Berkah Allah menjadi tumpuan kami untuk memulai bertani dan beternak,” kata dia. (vie/lis)