KDRT Dominasi Kasus Kekerasan

311

Dengan Korban Perempuan dan Anak

WONOSOBO—Angka kejahatan dengan korban kaum perempuan dan anak di Wonosobo masih cukup tinggi. Sepanjang tahun 2013 tercatat 39 kasus. Dari jumlah tersebut, kasus tertinggi adalah tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kemudian kasus persetubuhan atau pencabulan terhadap anak.
Menurut Kasatreskrim Polres Wonosobo AKP Sunarto, sepanjang 2013, Unit Perlindungan Pe­rempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polres Wonosobo mencatat ada 39 kasus yang melibatkan korban perempuan dan anak.
Dari jumlah tersebut, KDRT menempati jumlah terbanyak 17 kasus. Posisi kedua, persetubuhan terhadap anak mencapai 12 kasus, lalu pencabulan terhadap anak, dan pengeroyokan sebanyak 2 kasus. “Semua kasus ini yang terungkap selama satu tahun,” katanya.
Sunarto menjelaskan, selain kasus di atas, unit PPA juga menangani kasus pemerkosaan, perzinahan, pencabulan serta melarikan anak di bawah umur,
penghinaan dan membuang mayat bayi yang berjumlah masing-masing 1 kasus.
“Dari 39 kasus yang ditangani, 9 kasus telah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Wonosobo, 15 kasus diselesaikan dengan mediasi bersama dengan UPIPA dan Gabungan Organisasi Wanita (GOW), 10 kasus masih dalam penyidikan, serta 5 kasus masih dalam penyelidikan,” jelasnya.
Sunarto mengatakan, dari kasus tersebut, kebanyakan jumlah korban merupakan anak berusia dibawah 17 tahun. Dari hasil penyidikan, terungkap pula modus yang dilakukan oleh para pelaku persetubuhan terhadap anak adalah dengan dalih suka sama suka.
“Hal ini tentulah sangat mem­pri­hatinkan. Mesekipun pemerintah telah mengantisipasinya dengan mengeluarkan Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,” katanya.
Sunarto mencontohkan, dalam pasal 81 ayat 1 Undang Undang Perlindungan Anak menyatakan, setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan paling singkat 3 tahun dan denda paling banyak Rp 300 juta dan paling sedikit Rp 60 juta.
“Namun ancaman hukuman yang sedemikian berat tersebut akan percuma jika tidak diimbangi dengan peran serta masyarakat, serta keluarga untuk memberikan penanaman paham agama yang kokoh guna pengendalian pergaulan bebas remaja,” ujarnya.
Dari sekian kasus ini, Sunarto menyarankan kepada masyarakat, terutama remaja berusia kurang dari 18 tahun untuk lebih berhati-hati dalam pergaulan sehari-hari. “Kuncinya, jangan mudah percaya kepada orang yang baru dikenal atau bahkan hanya melalui media sosial, apalagi dengan pacar, karena dampaknya sangat bahaya,” tandasnya. (ali/lis)