Eni Sampai Lupa Nama Suami

385

Melihat Dua Anaknya Tewas
KRAPYAK — Eni Widayanti, 38, ibu dari Kanaya Nadin Aulia Zahrani Winaya dan Kaenu Rifky Ontoseno, dua balita yang menjadi korban perampokan kemarin dihadirkan sebagai saksi di Pengadilan Negeri (PN) Semarang. Yakni, untuk dua terdakwa Abdur Rohman, 32, dan Ahmad Musa, 24.
Dengan berurai air mata, Eni menceritakan kepada majelis hakim tentang peristiwa berdarah yang merenggut nyawa dua anaknya. Eny mengaku ia adalah orang pertama melihat anaknya terbunuh, sesaat setelah pulang kerja sekitar pukul 17.00.
Saat itu, tepatnya Kamis (10/10/2013) sore, ia sampai di rumahnya di Jalan Mulawarman Barat I RT 01 RW 01, Kramas Tembalang. Saat ia masuk, ia melihat Murni, 39, perawat anaknya tergeletak di ruang tamu. Ia mengaku saat itu tidak tahu jika Murni dalam keadaan pingsan.
”Saya tanya, Mbak kenapa? Sebab, awalnya memang belum ngeh. Belum sempat jawab, saya melihat ke kamar anak. Saat itu, saya belum sempat menangis, apalagi membayangkan. Ternyata anak saya dua-duanya meninggal,” kata Eni dengan isak tangis.
Eni mengakui belum sempat menangis saat itu. Dia hanya bisa berucap istighfar. Setelah itu, mengecek ada barang-barang yang hilang. ”Saya sebenarnya tidak apa-apa harta saya hilang. Tapi (kenapa, Red) anak saya yang masih kecil-kecil itu jadi korban,” sesalnya.
Penyesalan Eni itu ia ungkapkan dalam pengadilan. Sebab, Eni merasa marah dan jengkel dengan pelaku yang sudah menghabisinya nyawa dua anaknya. ”Anak saya kan balita, tidak tahu apa-apa. Kenapa jadi korban,” ucapnya sembari terus menangis di hadapan majelis hakim.
Tak lama setelah mengetahui anaknya meninggal, ia menelepon suami dan menyuruhnya pulang. Semua keluarga ia suruh pulang. Eni pun kebingunan dan keluar dari rumah mencari bantuan tetangga terdekatnya.
”Saya bilang, saya minta tolong karena anak saya dibunuh. Saat itu semua warga kampung gempar. Semua tetangga histeris, tidak percaya melihat apa yang saya alami. Saya sediri shock dan pingsan kemudian dibawa tetangga,” ceritanya.
Tak lama polisi datang. Eni kembali sadar dan melihat dua anaknya itu dalam kondisi tertelungkup dan berlumuran darah. ”Dua anak saya sudah tidak bernyawa. Saat itu, tangan saya bergetar bahkan sampai lupa siapa nama suami saya, berapa nomor handpone-nya untuk memberitahu kepada polisi,” ujarnya.
Hal senada dikatakan Sugeng Wiyono, 38, suami Eni, dan Murni, 39, pengasuh dua anaknya. Sama dengan Eni, Sugeng saat melihat buah hatinya meninggal dunia, juga mengaku tak percaya. ”Saat kejadian, saya dan istri masih di tempat kerja. Saya tahu, ditelepon istri kemudian pulang,” ucapnya.
Saat sampai rumah, ternyata pintu utama rusak dan barang-barang di rumah berantakan. Yang hilang, uang, perhiasan berupa cincin dan kalung. ’Dua-duanya meninggal dalam keadaan luka berat di bagian belakang kepala karena benda keras,” tambahnya.
Atas tanggapan ini, baik terdakwa Abdur Rohman maupun Ahmad Musa tidak keberatan. Dua terdakwa dari awal hingga selesai persidangan terus menundukkan kepalanya. Mendengar kesaksian orang tua korban, mata para pengunjung berkaca-kaca. Dalam kasus ini, dua terdakwa dijerat pasal 365 ayat (1) dan (4) KUHP. (bud/ida/ce1)