Hasilkan Kamera Underwater Pertama di Indonesia

428

Lebih Dekat dengan Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI) Semarang
Berawal dari kebosanan akan peralatan yang serba digital, Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI) Semarang dibentuk. Komunitas ini fokus pada kamera manual yang dirangkai sendiri sesuai kreatifitas para anggotanya hingga berhasil menghasilkan gambar yang istimewa. Seperti apa?

BUDI SETYAWAN, Tembalang

Sesuai namanya, KLJI Semarang yang didirikan pada September 2009 adalah komunitas yang mengajak para anggotnya menikmati seni fotografi dengan cara istimewa. Dikatakan istimewa karena gambar yang dihasilkan adalah hasil rekam dari lubang sekecil jarum atau biasa disebut dengan pinhole camera.
KLJI Semarang ini tidak hanya mengajarkan cara mengambil gambar, tapi benar-benar belajar seni fotografi dari hal yang dasar. Mulai dari merangkai kamera sendiri, memotret, hingga menghasilkan gambar sesuai kreativitas masing-masing.
Seni berproses inilah yang coba dikenalkan KLJI Semarang kepada masyarakat di tengah maraknya teknologi digital yang menjanjikan segalanya dengan instan. Tentu saja kamera yang digunakan bukan kamera biasa, melainkan kamera yang dirangkai sendiri oleh pemiliknya.
Tiga komponen utama kamera yakni shutter, lensa, dan body dimana komponen tersebut dirangkai menggunakan bahan-bahan bekas yang sudah tidak terpakai. Yakni dari bahan yang bisa kedap cahaya dan mudah untuk dibuka tutup. Alat yang digunakan untuk membuat kamera lubang jarum sangat mudah. Kaleng bekas, cat semprot hitam, alumunium foil, kertas negatif, lakban hitam dan jarum.
Bahan-bahan bekas tersebut kemudian dirangkai hingga dapat berfungsi sesuai kegunaan kamera sesungguhnya. Untuk menghasilkan cetak foto, hasil foto yang terekam dalam kertas negatif harus dicuci cetak terlebih dahulu. Cuci cetak dilakukan di kamar gelap sama seperti pada kamera analog.
Robertus Triaji Mahendrajaya, 26, mengatakan, proses demi proses yang diajarkan kepada anggotanya adalah untuk mengembalikan esensi seni fotografi yang luntur karena maraknya kamera digital. “Era digitalisasi memang memudahkan kita. Tapi di KLJI ini, akan diperkenalkan fotografi mulai dari pembuatan kamera, memotret, hingga menghasilkan gambar,” kata mahasiswa Universitas Diponegoro itu.
Dijelaskannyanya, dari kamera buatan sendiri ini, gambar yang dihasilkan akan berbeda-beda berdasarkan model kamera yang dibuat. “Sama-sama membuat kamera dari kaleng rokok misalnya, dari lubang seukuran jarum itu hasilnya bisa berbeda. Semua tergantung feel,” kata pria yang akrab disapa Obertz ini.
Meski boleh dibilang komunitas ini minim anggota, tapi Komunitas sudah tersebar di seluruh Indonesia. Bahkan tak jarang, KLJI menggelar berbagai pameran foto dan workshop di sekolah-sekolah. Selain itu, hunting foto serentak bagi KLJ di seluruh Indonesia juga diselenggarakan setiap tanggal 17 Agustus sebagai peringatan berdirinya KLJI nasional. Setiap hasil foto dari anggotanya tersebut akan diunggah dan dapat diunduh di laman KLJI.
KLJI Semarang, kata Yulius Basuki, 26, anggota lainnya, telah berhasil mengembangkan kamera bawah laut atau underwater dengan menggunakan kamera lubang jarum. Percobaan ini menghasilkan 3 gambar dengan kualitas baik dari 15 kamera yang diujicobakan pada 2009 lalu. Di kedalaman 2 meter, berhasil merekam gambar karang di bawah laut.
“Mengembangkan kamera underwater merupakan ciri khas KLJ Semarang. Saya pribadi bangga, karena di Indonesia yang bisa menciptakan gambar bawah laut dengan kamera lubang jarum ialah KLJI Semarang,” kata Yulius.
Menurutnya, KLJI mengajarkan olah rasa dan olah pikiran. Selain itu, kesabaran dan kreativitas juga menjadi kunci untuk dapat menghasilkan karya yang memuaskan. “Dengan alat terbatas, ternyata membuat kita menjadi lebih kreatif. Kamera lubang jarum merupakan salah satu pilihan alternatif untuk memotret yang unik,” tambahnya. (*/ton)