Ratusan Bebek Dimusnahkan dan Dibakar

329

KANDRI—Ratusan bebek milik Asbari, 51, warga RT 1 RW I Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, kemarin (18/1) dimusnahkan. Pemusnahan tersebut dilakukan karena unggas tersebut diindikasikan terserang virus flu burung tipe H5N1. Pemusnahan dilakukan petugas Dinas Pertanian Kota Semarang.
Pemusnahan dengan cara menyembelih kemudian dimasukkan dalam lubang tanah dan dibakar. Tak hanya sampai di situ, bangkai bebek juga disemprot dengan desinfektan dan dikubur. Bagian atas tanah juga disemprot kembali dengan desinfektan serta ditaburi kapur.
Petugas Puskesmas Gunungpati, Saeful didampingi Camat Gunungpati Bambang Pramusinto, mengaku, pemilik bebek sampai saat ini kondisinya masih sehat. Beberapa anggota keluarga Asbari juga dinyatakan sehat.
“Meskipun pemilik dan keluarga sehat tetapi petugas tetap akan melakukan pengecekan kesehatan. Memang secara fisik sehat tetapi dari kami tetap melakukan pantauan,” katanya.
Tak hanya memantau kesehatan keluarga Asbari, petugas juga mengecek kondisi kesehatan para tetangga. Secara fisik, ada beberapa yang menunjukkan gejala flu misalnya demam tinggi, batuk dan pilek. “Tetapi pemilik itu sehat sehingga kami akan tetap melakukan pemeriksaan,” akunya.
Pemeriksaan nantinya akan dilakukan dengan mengambil darah Asbari dan masyarakat yang berdekatan dengan lokasi kandang. Pemantauan kesehatan dilakukan selama 2 kali masa inkubasi atau selama 14 hari. “Jadi pemantuan itu dilakukan selama 14 hari, setelah itu kalau dinyatakan aman maka tidak dilanjutkan,” katanya.
Petugas Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang Wiwik Dwi Lestari yang mendampingi kegiatan pemusnahan mengatakan, selama dua minggu petugas akan memantau kesehatan pemilik ternak beserta keluarganya. Jika ada yang sakit, misal flu, pilek atau panas akan langsung diambil sampel darahnya untuk diperiksa di laboratorium.
Tidak hanya keluarga peternaknya saja, tetapi seluruh warga Kelurahan Kandri juga akan dipantau kesehatannya, supaya menjamin tidak ada yang terkena virus flu burung. “Pasalnya penularan virus ini, bisa saja melalui kontak langsung dengan bebek yang terkena virus maupun lewat udara,” katanya.
Camat Gunungpati Bambang Pramusinto mengaku, kejadian ini akan menjadi bahan evaluasi pemerintah setempat dalam penanganan dugaan flu burung. Sebab selama ini tak ada laporan kematian unggas ke Kelurahan Kandri.
“Padahal aturannya kalau memang lebih dari 100 (unggas mati), pemilik harus melaporkan kepada kelurahan setempat. Dan sampai saat ini dari kecamatan sendiri belum ada laporan dan belum melakukan inventarisasi,” akunya.
Untuk kegiatan pemusnahan ini, pemerintah menyediakan biaya Rp 3,5 juta untuk ganti rugi. Rinciannya, bebek petelur dihargai Rp 40 ribu/ekor sementara bebek pedaging Rp 25 ribu/ekor. Tenaga penggali tanah untuk mengubur bangkai bebek diberi upah Rp 150 ribu.
Asbari sebenarnya keberatan dengan pemusnahan unggasnya tersebut. Ia menilai kesehatan bebek-bebek tersebut sudah mulai membaik, bahkan sudah ada yang mulai bertelur. Tapi karena harus dimusnahkan, ia mengalami kerugian sekitar Rp 7 juta.
“Saya hanya menerima ganti rugi Rp 3,35 juta, belum lagi kerugian karena tidak bisa bekerja selama dua bulan. Belum lagi kerugian karena peternak lainnya yang akan belajar beternak di tempat saya jadi gagal,” katanya.
Selama ini usaha Asbari sering menjadi jujukan calon peternak bebek lainnya dari luar daerah, terutama Demak dan Wonosobo. Mereka akan belajar cara beternak bebek supaya menghasilkan uang yang besar. “Selama ini saya beternak bebek tidak pernah melapor, karena juga tidak akan mendapatkan apa-apa kalau melapor ke dinas, tidak ada pembinaan,” ungkapnya.
Salah seorang warga Zamzuri, 34, mengaku khawatir dengan temuan kasus dugaan flu burung tersebut. Ia berharap petugas Dinas Pertanian untuk sering datang ke Kelurahan Kandri dan memantau eksehatan unggas di wilayah tersebut. “Terus terang saya takut dengan fluburung, soalnya namanya virus itu tidak kelihatan. Tiba-tiba langsung sakit,” katanya. (hid/ton)