Duga Pejabat Antam Terima Rp 550 Juta

323

MANYARAN — Assistant Senior Manager Post Minning PT Antam, Suatmaji diduga menerima 10 persen atau Rp 550 juta dari total dana corporate social responsibility (CSR) PT Aneka tambang (Antam). Dana tersebut dikelola Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) tahun 2011 melalui program pemberdayaan masyarakat sekitar penambangan besi, Purworejo.
Sidang lanjutan yang mengagendakan pemeriksaan saksi menghadirkan dua saksi, yakni Mantan Direktur Umum CSR PT Antam, Deny Maluasa dan Kepala Divisi CSR PT Antam Agus Yulianto. ”PT Antam turut melakukan pemeriksaan secara internal. Suatmaji mengaku menerima 10 persen dari dana CSR yang totalnya sebesar Rp 5,8 miliar,” ujarnya di Pengadilan Tipikor, Senin (20/1) kemarin.
Selain menyebutkan kebocoran angka 10 persen dari total dana CSR PT Antam, Deny mengungkapkan bahwa sedianya Unsoed sebagai Badan Layanan Umum (BLU) tidak melaksanakan program sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK). Baik dalam pertanian, peternakan maupun perikanan terpadu yang menjadi program pemberdayaan masyarakat.
”Tapi dalam pelaksanaannya malah ada pembayaran kontrak rumah milik Suatmaji di luar Purworejo sebagai tempat CSR. Rumah itu berada di kawasan Rawamangun, Jakarta. Jadi dana 10 persen itu untuk mengontrak rumah milik Suatmaji. Hal itu memang tidak diatur secara rinci dalam KAK,” kata Agus.
Di sisi lain, ternyata laporan pertanggungjawaban CSR itu tidak sesuai kenyataan. Kendati begitu, PT Antam tetap menerimanya sesuai alias tidak ada kejanggalan. Saksi Deny dan Agus mengatakan pihaknya menerima laporan pertanggungjawaban dana CSR itu berdasar pemeriksaan lapangan yang dilakukan Suatmaji.
Sementara berdasarkan laporan hasil audit investigasi Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jateng, banyak sarana dan prasarana yang tidak dipenuhi oleh Unsoed selaku pelaksana program CSR PT Antam. Di antaranya gudang pakan ternak, sumur untuk peternakan itik, kandang bibit sapi, bak air, biosida, kamar mandi umum dan kolam ikan. Kerugian negara akibat penyimpangan itu mencapai Rp 2,154 miliar.
Akibatnya, tiga petinggi Unsoed, yakni Mantan Rektor Unsoed, Prof Dr Edy Yuwono PhD; Pembantu Rektor IV Unsoed, Budi Rustomo; dan Winarto Hadi selaku Kepala Unit Pelaksana Teknis Penerbitan Unsoed dijadikan terdakwa.
Namun menanggapi kesaksian dua saksi dalam persidangan tersebut, Mantan Rektor Unsoed, Edy Yuwono menampik bahwa pihaknya memberikan 10 persen dari dana CSR kepada Suatmaji. ”Saya tidak pernah memberikannya,” kata Edy.
Dalam kasus ini, tiga terdakwa dijerat berlapis. Yakni Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 dan Pasal 9 Jo Pasal 18 Undang-undang (UU) nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah ditambahkan dalam UU nomor 20 tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. Ancaman pidananya adalah 20 tahun penjara. (bud/ida/ce1)