Keluarga Korban Minta Dihukum Berat

315

TEMANGGUNG—Keluarga korban tindak pemerkosaan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Nur Rokhim, 40, guru mengaji di Pondok Pesantren Al Bayoran, Kampung Sidorejo Kelurahan Parakan Kauman Kecamatan Parakan menuntut agar pelaku dihukum seberat-beratnya. Tuntutan tersebut disampaikan usai mengikuti persidangan lanjutan di Pengadilan Negeri Temanggung, pagi kemarin.
Sidang dengan agenda keterangan saksi korban ini di pimpin oleh ketua majelis hakim Wahyu Widodo dengan jaksa penuntut umum (JPU) Hermin Widyaningsih dan penasehat hukum Dwi Priyanto. “Terdakwa telah mengakui semua perbuatannya sesuai dengan keterangan dari semua saksi,”kata penasehat hukum terdakwa, Dwi Priyanto.
Ia mengatakan, dari keterangan dua saksi korban hari ini yakni FT dan UL, terdakwa telah mengakui perbuatannya, korban dalam kesaksiannya telah diperlakukan tidak senonoh oleh terdakwa.
“Dalam keterangannya FT mengaku dipeluk di depan pintu lalu disuruh keluar dan UL sudah dipijit-pijit dan kemudian disuruh tidur namun UL menolak dan langsung pergi,” katanya.
Ia menambahkan, sidang yang akan menghadirkan saksi yang meringankan terdakwa akan dilakukan Selasa depan. “Sidang dengan agenda meringankan terdakwa ditunda Selasa minggu depan,” tambahnya.
Sementara itu, Istamar, 40, warga Kendal yang merupakan paman dari salah satu korban mengatakan, terdakwa harus di hukum sesuai dengan perbuatannya, karena terdakwa telah melakukan tindakan terpuji terhadap anak di bawah umur. “Kami ingin proses hukum ini tetap berjalan, sehingga terdakwa bisa merasakan akibat perbuatannya yang telah menodai anak-anak di bawah umur,” pintanya.
Permintaan serupa juga dilontarkan oleh Subhan, 42, warga Kendal yang setiap kali sidang selalu mendampingi anaknya. Ia meminta kiai ini bisa dihukum dengan ancaman hukuman berlapis, karena selain telah tega menodai anak-anak di bawah umur juga telah menyetubuhi murid lainnya yang sudah berusia 17 tahun. “Biarkan proses hukum yang menentukan. Tapi kami berharap pak kiai ini tetap di hukum seberat-beratnya, karena sudah merusak masa depan anak saya dan korban lainnya,”harapnya. (zah/lis)