Riset Tentang Capung, Dana Tak Cukup, Terancam Gagal

382

Siti Fauziah, Mahasiswa UGM Warga Temanggung Diundang ke Finlandia
Berkat penelitian tentang capung, Siti Fauziah, warga Temanggung yang juga mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta berkesempatan ke Finlandia. Sayangnya, ia tidak memiliki uang saku yang memadai untuk ke Eropa.
Riset Siti Fauziah tentang biomekanik dari sayap capung dilirik oleh Composite Materials and Biostructures di Abo Akademi, Finlandia. Warga Dusun Kedungwuluh Desa Candimulyo Kecamatan Kedu ini, rencananya pada Maret mendatang akan melanjutkan risetnya ke Finlandia. Riset tersebut merupakan penelitian menarik lantaran temuan baru bagi dunia biologi.
“Saya sudah mendapatkan rekomendasi dari Finlandia dan tinggal berangkat ke sana Maret ini,” kata dara kelahiran Temanggung, 20 Juli 1991 ini.
Putri pasangan Ridwan, 55, dan Jalilah, 48, ini menemukan risetnya dari hasil pengamatan terhadap capung yang banyak di desanya. Serangga ini menarik perhatiannya sebab struktur fisik yang dimiliki cukup unik, yakni pada lekukan vena dan membran. “Struktur itu yang membuat capung dapat terbang dalam jarak jauh,” katanya.
Alumni SMA 3 Temanggung tersebut memaparkan, selama terbang, sayap capung tersebut mengalami proses deformasi (perubahan bentuk), torsi, lipatan untuk berjuta-juta siklus kepakan. Bahkan, dalam risetnya, gaya angkatnya 10 kali lebih besar dibanding sayap pesawat terbang pada ukuran luas yang sama.
“Tujuan utama penelitian adalah untuk mengetahui mikrostruktur dan sifat material vena pada sayap capung, lokasi resilin pada join vena, geometri resilin, serta karakteristik mekanik berdasarkan mikrostruktur sayap dan komposisi material, “jelasnya.
Menurutnya, hasil penelitiannya bisa diaplikasikan pada teknologi perlekatan modern, sebagai termoregulator panas pada bangunan. Kemudian sebagai material elastis pada bodi mobil atau pesawat terbang.
Sayangnya, seperti umumnya peneliti-peneliti Indonesia lain, Siti kini menemui kendala klasik, berupa keterbatasan dana dan terlalu ribetnya birokrasi. Setidaknya dia membutuhkan dana sekitar 5.500 Euro, tapi sekarang baru mendapat 2.500 Euro sumbangan dari seorang pengusaha bernama Markono.
“Saya berharap mendapat dukungan dari pemerintah negara saya sendiri. Karena penelitian ini baru satu-satunya di Indonesia. Saya ingin ke depan peneliti itu dihargai dan menjadi tuan di negeri sendiri agar tidak kemudian malah dibajak negara asing,” harapnya. (zah/lis)