Desain Kaos Sendiri, Modal dari Tabungan

413

Melinda Safitri, Mahasiswi Unika Soegijapranata yang Berbisnis Konveksi
Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswi Fakultas Ilmu Komputer Jurusan Sistem Informasi Universitas Katolik Soegijapranata (Unika) Semarang, Melinda Safitri sukses mengelola bisnis konveksi. Ia mendesain dan membuat sendiri kaos dalam wanita. Seperti apa?
SAAT ini, Melinda duduk di semester IV FIK Unika Soegijapranata. Namun ia sudah mampu menciptakan lapangan usaha bagi saudaranya. Berbekal kerja keras dan kemauan pantang menyerah, ia kembangkan usaha yang telah dirintisnya sejak setahun lalu itu.
Saat ditemui di rumahnya Jalan Jangli Krajan RT 02 RW III No 225 Kelurahan Jatingaleh, Candisari, Semarang, Melinda tampak tengah sibuk mendesain kaos dalam wanita. Ia mengaku merintis usaha tersebut berbekal pengetahuan entrepreneurship yang didapatkan saat duduk di bangku SMK Negeri 11 Semarang.
”Saya sering mendapatkan pelatihan entrepreneur di SMK dulu. Namun saat itu, saya masih belum berani membuka usaha sendiri. Baru setelah kuliah, saya memberanikan diri,” kata gadis kelahiran Semarang, 11 Mei 1994 ini.
Anak ketiga dari empat bersaudara ini memilih bisnis kaos dalam wanita khusus anak-anak, karena dinilai prospeknya bagus. ”Karena semua wanita kan membutuhkan. Selain itu, jumlah wanita kan katanya lebih banyak ketimbang laki-laki,” ucapnya sambil tersenyum.
Selain itu, ide itu muncul saat melihat pakaian anak-anak yang lucu. Apalagi saat mereka mengenakan pakaian singlet. Saat itulah, muncul ide Melinda membuat kaos dalam yang tetap modis dipakai. ”Jadi, kaos dalam yang saya buat khusus buat anak-anak. Agar terlihat lucu dan enak dilihat, saya mulai mendesain bentuk kaos sport (kaos dalam, Red) itu dengan kreativitas saya sendiri,” kata putri pasangan Sakidi dan Sunarti ini.
Saat akan membuka usaha konveksi ini, awalnya ia sempat mengajukan proposal pinjaman dana usaha ke pihak Unika Soegijapranata. Pinjaman dana itu dengan jangka waktu 2 tahun, dan dikembalikan tanpa bunga. Namun sayang, proposalnya tidak disetujui, karena maksimal hanya 10 mahasiswa yang menerimanya.
”Karena ditolak, akhirnya saya menggunakan tabungan yang didapat dari kerja sebagai guru les privat sebagai modal awal. Kebetulan sejak kelas XII SMK saya menjadi guru les privat hingga sekarang,” kata gadis yang bercita-cita menjadi guru ini.
Dengan modal sendiri, dan sedikit dibantu orang tuanya, Melinda memulai wirausahanya. Ia tak sulit mencari tenaga kerja, karena keluarganya seorang penjahit. ”Kebetulan ibu punya beberapa mesin jahit. Saya pun menggandeng kedua kakak dan kedua kakak ipar saya termasuk ibu saya untuk membantu,” ujarnya.
Sementara dirinya yang mendesain model kaos dalam, desain label, serta brosur. Kebetulan Melinda menguasai ilmu desain grafis yang diperoleh saat SMK. Untuk promosi, tidak menjadi hal yang sulit bagi Melinda. Karena ia pernah punya pengalaman bekerja sebagai administrasi dan desainer di salah satu percetakan kaos printing di Semarang. Ia mempromosikan produknya lewat online atau offline.
Untuk pemasaran, Melinda dibantu kakak dan saudaranya. Karena, dia harus pergi kuliah. ”Kalau saya di kampus, kakak yang meng-handle usaha. Tapi, Alhamdulillah sudah ada reseller yang datang ke rumah,” ucap penerima beasiswa unggulan Kemendibud jurusan Sistem Informasi Unika Soegijapranata Semarang ini.
Saat ini, omzet penjualan terus meningkat. Setiap harinya ia bisa menjual kaos dalam senilai Rp 250 ribu, dengan omzet sebulan mencapai Rp 5 jutaan. ”Ternyata respons masyarakat terhadap kaos yang saya pasarkan cukup bagus. Banyak yang mengatakan, kaosnya halus, nyaman digunakan dan tidak panas,” promosinya.
Ke depannya, Melinda ingin terus mengembangkan usahanya tersebut. ”Saya berencana membuat kaos dalam yang warna-warni agar anak-anak lebih tertarik, karena selama ini warnanya hanya putih saja,” katanya. (mel/aro/ce1)