Nelayan Rawa Pening Merugi

344

AMBARAWA–Cuaca ekstrem yang terjadi di Kabupaten Semarang belakangan ini membuat aktivitas perikanan dan pariwisata terancam menderita kerugian besar. Sebab curah hujan yang tinggi disertai angin kencang membuat nelayan di sentra komoditas ikan terbesar yakni kawasan Rawa Pening lesu. Banyak nelayan tidak berani mencari ikan di Rawa tersebut.
Menurut seorang nelayan, Jasman, 50, warga Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa, saat ini sudah banyak nelayan yang waswas karena cuaca ekstrem. Sebab pada bulan Januari ini setiap hari cuacanya buruk yakni hujan deras disertai angin kencang. Sejumlah nelayan khawatir karamba yang berada di tengah-tengah Rawa Pening rusak karena disapu angin seperti yang terjadi tahun 2013 lalu.
“Sebenarnya kita sudah memprediksi cuacanya akan seperti ini. Sebab setahun lalu pada periode yang sama juga terjadi hujan daeras dan angin kencang. Bahkan enam kotak karamba berisi ikan nila milik saya hilang. Kerugiannya lumayan banyak karena satu kotaknya Rp 3-5 juta, kalau ada enam kotak tentu bagi kami itu kerugian yang besar,” ujar Jasman.
Selain masalah karamba, menurut Jasman, pendapatan nelayan turun drastis. Sebab tidak ada yang berani mencari ikan dengan berperahu ke tengah rawa. Sebab risikonya sangat besar jika perahu terbalik karena tersapu angin atau tersambar petir.
Sementara itu nelayan lainnya, Tasliman, 60, mengaku pernah merugi belasan juta rupiah karena karamba miliknya rusak. Pada musim cuaca buruk tahun ini pihaknya bersama anggota kelompok nelayan dan budidaya ikan karamba sudah melakukan penguatan jangkar sejumlah karamba. Kendati sudah ada penguatan namun nelayan tetap saja waswas kalau kerambanya rusak.
“Jangkarnya sudah kita perkuat, tetapi cuaca itu tidak tentu sehingga kita tetap waswas. Harapan kami pemerintah ikut membantu para nelayan untuk memperkuat karamba,” ungkap Tasliman yang nyambi menyewakan perahu untuk wisata keliling Rawa Pening.
Pendapatan di obyek wisata di Rawa Pening juga menurun, terutama jasa sewa perahu. Sebab dengan cuaca buruk pemilik perahu tidak berani melakukan tur Rawa Pening. Untuk menghindari kecelakaan, operator perahu mengubah rute yang semula berkeliling hingga tengah. Rute diubah hanya lewat pinggiran yang perairannya dangkal.
“Rute kita ubah untuk menghindar kecelakaan, jadi hanya lewat di pinggir itupun tidak sampai tengah. Tentu perubahan rute mempengaruhi, karena penumpang jarang,” ujar Tasliman. (tyo/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.