Jadwal Kereta Molor

365

TANJUNG MAS- Banjir yang melanda sejumlah kawasan di Pantura Jawa berdampak pula pada moda transportasi kereta api. Beberapa perjalanan kereta api yang melintas di wilayah PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 4 Semarang molor dari jadwal yang berlaku.
Tak hanya itu saja, banjir juga memaksa adanya status Berhenti Luar Biasa (BLB) di Stasiun Poncol Semarang, untuk seluruh kereta yang berhenti di Stasiun Tawang. Pasalnya, seluruh area Stasiun Tawang sejak 3 hari terakhir ini terendam banjir.
Sabtu (25/1), banjir yang menggenangi Stasiun Tawang masih mencapai sekitar 1 meter atau di atas lutut orang dewasa. Banjir menggenangi seluruh akses masuk stasiun, ruang tunggu penumpang, hingga perkantoran.
Kepala PT KAI Daop 4 Semarang, Wawan Ariyanto mengatakan, pihaknya masih memberlakukan status BLB hingga kondisi memungkinkan. Pemberhentian kereta yang biasanya di Stasiun Tawang Semarang, sementara harus dipindahkan ke Stasiun Poncol.
“Pengalihan pemberhentian ini Stasiun Tawang terendam banjir, serta akses menuju stasiun yang juga mengalami banjir, sehingga menyulitkan calon penumpang untuk menuju ke stasiun tersebut,” katanya, kemarin.
Wawan mengakui, kondisi lintasan atau track di lintas Stasiun Alastuwa-Tawang Semarang belum bisa dilewati dengan normal akibat banjir. Satu track lama masih tergenang banjir dengan ketinggian air sekitar 15 sentimeter di atas permukaan rel.
Dalam kondisi normal, lanjutnya, ada dua track yang dioperasikan di lintas Stasiun Alastuwa-Tawang, yakni satu jalur lama dan satu jalur baru, yang dibangun seiring proyek jalur ganda (double track). Namun, jalur lama masih tergenang banjir di atas batas toleransi aman, sehingga tidak bisa dilewati KA, dan kondisi jalur baru tidak tergenang karena letaknya yang lebih tinggi.
“Praktis, hanya satu jalur yang bisa dilewati di lintas Alastuwa-Tawang, sehingga KA mengantre untuk melewati jalur itu, dan menunggu di stasiun-stasiun sebelumnya, baik dari arah barat maupun timur,” ujarnya.
Di kawasan RT 1, 2, 3, 4,5 Kelurahan Sawah Besar dan RW 3 Kelurahan Genuksari, air masih menggenangi rumah warga. Ketinggiannya bervariasi antara 25-50 cm. Bahkan ada yang lebih dalam karena lokasi rumah yang lebih rendah dari jalan.
Salah seorang warga Yanti, 33, mengaku ketinggian banjir di kampungnya sekitar 50 cm. Tetapi di dalam rumahnya ketinggian air mencapai 1 meter. “Kalau di dalam (rumah) memang tinggi, soalnya rumah saya itu agak jeglong, sehingga airnya tinggi sekali,” katanya.
Yanti juga mengatakan, sejumlah anak mulai menunjukkan gejala sakit akibat banjir. Seperti dari demam, nyeri, serta gatal-gatal. Mereka mulai mendapatkan pengobatand ari tim medis puskesmas keliling yang membuka posko kesehatan di lokasi bencana.
Banjir yang menggenangi sejumlah ruas jalan di Kota Semarang telah mengganggu roda ekonomi. Sejumlah pedagang terpaksa menutup usahanya, karena tempat usahanya telah terendam air. Seperti yang dialami Haryono, 25, pedagang kaki lima yang biasa mangkal di Jalan MT Haryono. Sejak Senin (20/1) lalu, lokasi kios tempat ia berjualan kaos kebanjiran. Akibatnya, ia dan rekan-rekan PKL lainnya tidak bisa berjualan. “Biasanya walau hujan para pedagang di kios-kios sepanjang jalan ini jualan semua. Tapi berhubung banjir, jadinya tutup,” ujarnya. Warga Jalan Citarum ini mengaku bingung, karena selama tutup, ia tak mendapat penghasilan sama sekali.
Irwan Prasetyo, 27, seorang karyawan swasta ikut merasakan dampak banjir ini. Pria yang bermukim di Purwodadi ini setiap hari harus menuju kantornya di Jalan Pamularsih Kota Semarang. Banjir yang menggenangi sejumlah jalur utama, membuat ia harus mencari kalur alternatif agar bisa sampai ke kantor. Tapi hal tersebut bukan sepenuhnya bebas masalah. “Pengalihan ke jalur alternatif justru menimbulkan masalah baru yaitu penumpukan kendaraan,” ujarnya.
Banjir juga telah meninggalkan ribuan lubang di badan jalan di sepanjang jalan Semarang-Kendal. Lubang dengan kedalaman 20-30 sentimeter mengakibatkan sejumlah titik rawan kemacetan. Diantaranya di Brangsong dan Patebon kendal. Di dua titik tersebut, kondisi jalan macet lantaran dua lanjur badan jalan dipenuhi dengan lubang.
“Jalannya benar-benar rusak, istilahnya kalau mau lewat harus benar-benar metani dalan agar kendaraan tidak masuk lubang. Sebab, lengah sedikit saja bisa-bisa kendaraan jatuh karena lubangnya lebar dan dalam,” ujar Heru Sungkowo, warga Weleri-Kendal, Sabtu (25/1).
Ia mengatakan, setiap hari pekerjaannya di Semarang mengharuskan menempuh perjalanan Kendal-Semarang. Jika biasanya waktu tempuh hanya 1,5 jam saja. Namun semenjak jalan rusak sepekan ini, jarak tempuh menjadi tiga jam.
Terpisah, pakar transportasi, Djoko Setijowarno mengatakan kerusakan jalan Pantura akibat hujan ini menandakan bahwa konstruksi pembangunan jalan yang dilakukan pemerintah tidak sesuai dengan spesifikasi yang ada. “Masa, jalan aspal kena hujan langsung berlubang, ini kan berarti ada salah dengan pembangunannya,” kata Djoko.
Kesalahan konstruksi menurut Djoko, hal yang sering terjadi adalah pengurangan spesifikasi. Baik dari sisi ketebalan maupun material aspal dan pasir yang digunakan. “Ini menandakan ada dugaan tindak pidana korupsi,” tandasnya. (aln/jpnn/mg3/mg6/hid/bud/ton)