Lewat Tari, Bentuk Kepribadian dan Olah Raga

1083

Cahyo Wibowo, Direktur Studio Seni Amerta Laksita Semarang
Tak banyak anak muda yang mau menggeluti seni tradisional terutama tari. Seni tradisional oleh kalangan generasi muda saat ini sering dianggap sebagai sesuatu yang kuno dan ketinggalan zaman. Tapi Cahyo Wibowo menepisnya.

BUDI SETYAWAN, Tembalang

Memang masih ada anak muda yang penuh semangat menggeluti seni tradisional. Sejumlah komunitas anak muda berusaha tampil di hadapan masyarakat. Tapi jumlahnya masih sedikit dan seolah termarjinalkan lantaran kurang mendapatkan apresiasi baik dari pemerintah maupun masyarakat. Sebab seni saat ini sudah tidak bisa jadikan gantungan hidup. Orang-orang seni dianggap tidak memiliki masa depan.
Meski begitu, bagi seniman sejati, anggapan seperti itu sudah menjadi hal yang lumrah dan tak jadi persoalan serius. Satu dari sedikit anak muda tersebut adalah Cahyo Wibowo yang mencoba mengabdikan diri untuk mengembangkan seni tradisional di Kota Semarang.
Bersama 4 rekannya, Denny Palma Septiany Putri, Dewi Tristiani, Veronika Riska S, Nimas Ayu Nawangsih, dan Ines, Cahyo membentuk sanggar tari dengan nama Studio Seni Amerta Laksita. Wadah tersebut dibentuk sebagai tempat belajar tentang seni tarti tradisional Jawa.
“Sudah lama kami gagas ini, sejak 2004 silam. Tapi baru 2011 sanggar ini resmi terdaftar di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Tengah. Bagi kami, Studio ini adalah semangat kami untuk menghidupkan seni tradisional. Siapa lagi yang bisa meneruskan dan melestarikan seni kalau tidak anak mudanya,” kata Cahyo yang didaulat menjadi direktur studio seni Amerta Laksita, kemarin.
Nama Amerta Laksita diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti keabadian yang terkenal. Tentu harapannya, lewat sanggar ini, seni tradisional akan selalu ada dan berkumandang kemasyurannya. Tak hanya di Indonesia tapi juga sampai mancanegara.
Ketika pertama kali dibuka, murid di sanggar ini hanya 5 anak. Lewat getok tular maupun melalui fasilitas media sosial, informasi keberadaan sanggar ini semakin meluas. Dan anggota sanggar terus bertambah. Saat ini ada sekitar 25 anak yang aktif belajar menari, rata-rata pada kisaran usia 5-12 tahun.
Cahyo menjelaskan, di Amerta Laksita, para anggotanya tak melulu belajar tari tradisional. Mereka juga diajarkan seni teater, musik dan lainnya. Hal ini dilakukan untuk menarik minat generasi muda agar mau berkecimpung di dunia seni tradisional. “Visi kami tidak hanya mengenalkan tapi membawa kesenian tradisional Indonesia di kancah internasional,” ujarnya.
Pria yang akrab dipanggil Bowo Coy membuktikan bisa keluar negeri lewat tari tradisional. Ia membawakan tari Jawa ke sejumlah negara Eropa. Saat berusia 26 tahun atau pada 2008 lalu, ia menari di Perancis, Spanyol, dan Italia. “Saat itu saya mendapat daulat menjadi duta seni Indonesia,” tandasnya.
Pria kelahiran Semarang pada 26 Mei 1982 ini mengaku memang sudah sejak kecil ingin menjadi penari. Menurutnya, menari bukan hanya soal kesenian tapi hakekat menari adalah ritual diri manusia. Seperti lazimnya olahraga. “Menari sama juga olah raga. Tetapi kita meluapkan dengan jiwa. Bukan hanya melatih fisik tapi juga menyehatkan psikis,” paparnya.
Bagi Cahyo, tari Jawa bisa membentuk kepribadian. Seorang anak perempuan yang tomboi, bisa menjadi tidak tomboi lewat menari. Sementara yang laki-laki tidak menjadi banci. Tari bisa meneguhkan hati. ”Bisa atur pernapasan, layaknya yoga atau kalau di kungfu tai chi,” Cahyo.
Dengan adanya Studio Seni Amerta Laksita yang beralamat di Jalan Kaba III Nomor 11, Delikrejo, Tembalang itu, ia berharap mampu membina anak didik agar menjadi manusia yang berbudaya dan berbudi pekerti luhur. Serta meningkatkan potensi dan keterampilan dalam bidang seni. “Tari klasik, tradisional, kreasi, wayang orang, ketoprak, dan rias busana juga kami ajarkan di sini,” tambahnya. (*/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.