Masih Trauma, Bolos Sekolah

485

SMG 20140128.inddAnak-Anak Korban Longsor Trangkil

SUKOREJO — Bencana tanah longsor yang menyebabkan 43 rumah di Perumahan Trangkil Baru dan Trangkil Sejahtera, Sukorejo, Gunungpati, retak dan roboh, ternyata masih menimbulkan trauma bagi anak-anak setempat. Bahkan, Senin (27/1) kemarin, masih banyak anak-anak korban longsor yang belum berangkat ke sekolah. Mereka memilih tidak masuk alias membolos.
Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Iman, Banaran, Sukorejo, Siti Kartini mengakui, ada beberapa siswanya yang menjadi korban longsor. Di antaranya, masih belum masuk sekolah lantaran masih trauma. Di antaranya, Fizae Kurniawan, 6, dan Kirana.
”Selama kondisinya belum memungkinkan untuk kembali sekolah, kami memberikan izin kepada Fizae dan Kirana untuk tidak masuk,” kata Siti Kartini yang kemarin mengunjungi siswanya yang menjadi korban longsor bersama tiga orang guru di tenda pengungsian.
Pihak sekolah sendiri, kata dia, kemarin juga menyalurkan bantuan kepada Nana Mulyati, 35, ibu Fizae Kurniawan.
Nana mengakui, hingga kemarin anaknya masih trauma dengan bencana longsor yang terjadi pada Kamis (23/1) pagi lalu. Bahkan Fizae sering menangis jika ditanya mengenai rumahnya.
”Pada saat kejadian, anak saya sedang berada di luar rumah bersama anak tetangga. Dia menyaksikan langsung rumahnya yang ambles. Saya tidak sempat menyelamatkan apa pun kecuali motor saya,” tutur Nana.
Anak korban longsor lainnya, Kirana, teman Fizae di MI Al-Iman Banaran kini telah pindah bersama keluarganya ke rusunawa Kaligawe. Sehingga hingga kemarin, juga tidak masuk sekolah.
Nana mengakui, tinggal di tenda pengungsian merasa tidak nyaman. Namun ia tak ada pilihan lain, karena itu satu-satunya yang bisa menjadi tempat tinggalnya sementara.
”Ya mau gimana lagi, nyaman nggak nyaman kita harus tinggal di sini. Memang adanya seperti ini, mau kembali ke rumah juga sudah roboh,” kata ibu tiga anak ini.
Ia mengaku masih sering merasa trauma dengan kejadian longsor yang telah memorak-porandakan rumahnya. Namun ia merasa terdorong semangatnya tatkala melihat anak-anaknya bermain dan bercanda. ”Kalau hujan biasanya keinget kejadian itu, trauma, tapi kalau siang hari ngeliat anak-anak main, bercanda, dan ketawa, rasa traumanya hilang Mbak,” ungkap Nana sambil memeluk anak bungsunya yang masih balita.
Tempati Rusunawa
Sementara itu, Pemkot Semarang tidak merekomendasikan warga Perumahan Trangkil Baru dan Trangkil Sejahtera, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, yang menjadi korban longsor, kembali bermukim di kawasan tersebut. Meski begitu, pemkot tidak bisa mengupayakan relokasi warga secara permanen ke tempat lebih aman. Pemkot hanya bisa memberikan bantuan Rp 10 juta per kepala keluarga (KK) dan menawarkan relokasi sementara di rusunawa (rumah susun sewa) Kaligawe.
Sebelumnya, sebagian besar warga Trangkil menolak pindah ke rusunawa Kaligawe karena dianggap terlalu jauh. Tapi kemarin (27/1) sejumlah warga diajak melihat kondisi rusunawa Kaligawe oleh Dandim 0733/BS Letkol Invantri Dicky Amunanto Mulkam menggunakan truk TNI.
Setelah melihat kondisi di sana, warga kembali dikumpulkan di aula Kodim di Jalan Pemuda. Dalam audiensi bersama Dandim dan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, sebagian besar dari mereka bersedia menempati rusunawa.
”Setelah meninjau ke rusunawa Kaligawe, warga menyampaikan tidak ada masalah (pindah). Saya juga jelaskan ini penghunian sementara, kalau sudah kuat, mereka mau pindah lagi tidak masalah,” ujar wali kota.
”Besok malam (malam ini) kita akan salurkan bantuan Rp 10 juta per KK, tidak hanya warga Trangkil tapi juga korban bencana longsor lain di Kota Semarang,” imbuhnya.
Disinggung penolakan warga karena alasan jauh, utamanya terkait sekolah anak-anak mereka, pejabat yang akrab disapa Hendi ini akan memfasilitasi sekolah yang dekat dengan rusunawa.
”Alasan jauh untuk bersekolah anak-anak mereka nanti kita fasilitasi agar pindah di sekolah dekat Kaligawe. Saya juga beri pengertian kalau relokasi tidak mungkin karena terbentur aturan. Seperti halnya warga Deliksari sampai saat ini juga tidak bisa dilakukan,” terangnya.
Sebelumnya ada wacana relokasi di daerah Sanggar Pramuka, menurut Hendi, hal itu bisa saja dilakukan. Namun lokasi tersebut tidak bisa dimiliki oleh warga secara permanen. ”Bisa-bisa saja, tapi itu tidak bisa dimiliki mereka. Pemkot sifatnya memberikan bantuan bangunan sementara, namanya bangunan sementara, jadi kondisinya tidak senyaman di rumah sendiri,” kata wali kota.
Sebagai bentuk penanganan sementara, lanjut Hendi, saat ini sudah dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas PSDA-ESDM dengan membuat saluran yang sifatnya mengalirkan air. ”Karena drainasenya rusak parah. Jalur jalan juga akan dilakukan penanganan sementara oleh Bina Marga,” tandasnya.
Kepala BPBD Kota Semarang Iwan Budi Setiawan menyatakan, pihaknya sudah melakukan pendataan terhadap warga Trangkil yang menjadi korban bencana longsor, baik warga Trangkil Sejahtera maupun Trangkil Baru. ”Kita juga inventarisir bangunan dan infrastruktur yang mengalami kerusakan. Untuk penanganan sementara, kita buatkan saluran air, agar longsoran tidak melebar lagi,” ujarnya.
Salah satunya membuat boks dengan ukuran 60×60 sentimeter, di dalamnya akan diberi pralon berdiameter 30 sentimeter sebanyak 15 batang. ”Paralon itu sebagai jalannya air. Sehingga air tidak akan ke mana-mana, jadi longsor tidak akan menjalar lebih luas,” ujarnya.
Disinggung penanganan jangka panjang, Iwan menyatakan, pemkot tidak akan melakukan penanganan jangka panjang, karena tanah di kawasan tersebut memang labil.
”Tidak ada rekayasa teknik untuk jangka panjang di kawasan tersebut. Kita tidak ada rekomendasi untuk menghuni di kawasan sana (Trangkil). Yang rumahnya sudah runtuh kita berharap warga tidak kembali. Penanganan yang kita lakukan untuk warga yang memang belum terkena dan rawan terkena,” jelas Iwan. Pihaknya juga mengklaim telah memberikan bantuan berupa tenda paramedis dan tangki air bersih.
Kepala Dinas Tata Kota dan Perumahan (DTKP) Agus Riyanto menyatakan, pihaknya sudah menyiapkan tempat relokasi sementara bagi warga Trangkil yang bersedia pindah ke Ruwunawa Kaligawe. Masih ada kapasitas untuk menampung 32 KK warga Trangkil. ”Semua fasilitas dan sarpras rusunawa sudah siap. Kita siap memberikan bantuan selimut dan kasur,” ujarnya.
Mengenai biaya sewa, Agus mengaku belum bisa memutuskan kebijakan apakah digratiskan atau tidak. Secara umum tarif menghuni rusunawa tersebut Rp 70 ribu per bulan. ”Kita belum bisa bicara masalah administrasi penempatan rusun. Itu menunggu kebijakan selanjutnya. Yang penting warga yang terkena bencana ini bisa tertampung dulu di sana,” tandasnya.
Apakah warga setuju? Pihaknya yakin sebagian warga Trangkil bersedia pindah ke Rusunawa Kaligawe. Menurutnya, sebanyak 32 KK warga Trangkil Baru sudah mengirimkan sinyal kesediaannya pindah ke rusunawa. Sedangkan 11 KK korban longsor di Trangkil Sejahtera, belum bersedia. ”Informasi dari pihak kecamatan, 11 KK yang di Trangkil Sejahtera belum mau pindah,” tandasnya.
Agus Kushendratno, salah seorang warga mengaku bersedia pindah ke rusunawa. Namun pihaknya masih akan merapatkan lagi bersama warga. ”Kita sepakat pindah di sana (rusunawa). Kita berharap pemerintah memfasislitasi dan melengkapi sarpras di sana. Kita juga akan merapatkan kepindahan ini kembali bersama warga lain,” ujarnya. (mg6/mg5/mg4/mg8/zal/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.