Jawa-Bali Terancam Krisis Listrik

367

Bila Pembangunan PLTU Batang Mundur
SEMARANG – Pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) 2X1.000 Megawatt (MW) di Batang terancam mundur. Padahal proyek tersebut sebenarnya harus sudah dibangun tahun 2014 ini dan akan dioperasionalkan tahun 2016.
Deputy Manager Komunikasi dan Bina Lingkungan PT PLN Distribusi Jateng-DIJ Supriyono kemarin mengatakan, pembangunan PLTU terancam mundur di antaranya karena proses pembebasan lahan yang belum rampung. Mundurnya pembangunan PLTU terbesar di Asia ini, membuat pasokan listrik di Jawa dan Bali terancam tersendat. Imbasnya, wilayah Jawa dan Bali terancam krisis listrik pada tahun 2015-2016.
Kondisi tersebut tentu juga mengancam pasokan listrik di Jawa Tengah dan DIJ. Kemungkinan pada saat krisis listrik tersebut nanti, PT PLN Jateng-DIJ akan memberlakukan nyala bergilir atau pemadaman bergilir. ”Pasokan listrik sistem Jawa-Bali saat ini mencapai 26.000 MW. Sedangkan beban untuk Jateng-DIJ saat ini 3.300 MW. Kalau 2014 PLTU Batang tidak segera dibangun, Jawa-Bali akan mengalami defisit listrik, meski semua pembangkit dioptimalkan,” jelas Supriyono.
Dijelaskan proyek pembangkit 2.000 MW di Batang senilai kurang lebih Rp 40 triliun ini bukan proyek PLN, melainkan proyek pemerintah, sehingga tak heran Gubernur Jateng Ganjar Pranowo juga sangat mendukung. Bahkan Gubernur Jateng juga menginstruksikan kepada seluruh jajarannya, untuk mengawal proyek ini segera dilaksanakan dan bisa dioperasionalkan 2016.
Padahal beban daya Jateng-DIJ, 3.300 MW, belum termasuk industri besar serta 14 industri besar yang akan masuk dengan kebutuhan daya tinggi 400 MW. ”Jika pembangunan mundur otomatis operasional akan mundur hingga 2017. Sehingga krisis listrik tidak dapat dihindari lagi dan pemadaman listrik atau nyala bergilir akan diberlakukan,” ungkapnya. (tya/smu/ce1)