Disoal, Transparansi BPJS

274

SALATIGA — Pelaksanaan program kesehatan melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di Kota Salatiga belum maksimal. Banyak masyarakat yang masih kebingungan dengan program tersebut.
Hal itu mencuat dalam pelaksanaan musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) tingkat kelurahan di Kelurahan Salatiga dan Pulutan, Kecamatan Sidorejo, kemarin. Warga kebingungan jika hendak berobat. Satu sisi, saat ini program tersebut masih dalam tahap transisi.
”Peserta PNS yang hadir saja belum begitu paham mengenai BPJS. Kita tunggu saja, nanti pasti ada sosialisasi dari dinas terkait. Tapi saya yakin tidak banyak permasalahan yang muncul dalam pelaksanaannya,” kata Lurah Puluhan, Kharis.
Salah seorang warga Salatiga, Elya, 25, mengaku kebingungan dengan BPJS saat mengantarkan saudaranya berobat ke RSUP dr Kariadi Semarang. ”Budhe-ku dulu pakai Askes dan potongannya jelas. Tapi, saat ini, dengan BPJS malah tidak jelas kalkulasinya. Jangan-jangan motong-nya main feeling aja,” keluh dia.
Dikatakan, seandainya ada tabel ketentuan, ia berharap adanya transparansi. ”Warga khawatir jika tidak ada transparansi, maka pembayaran akan berbeda-beda dari tiap pasien dengan penanganan yang sama.”
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Salatiga dr Sovie menjelaskan, pembayaran BPJS di rumah sakit menggunakan sistem paket. Namanya, sistem InaCBGs. ”Seharusnya, sudah jelas paketnya. Sakit A, paketnya sekian. Biasanya, rumah sakit menyesuaikan obat yang diberikan dengan nilai paket yang ada,” terang Sovie. Ia memaklumi adanya petugas yang masih kebingungan.
Menyinggung soal sosialisasi, Sovie menjelaskan, pihaknya telah menjadwalkan sosialisasi ke dinas-dinas. Juga sosialisasi ke tingkat kecamatan saat pelaksanaan musrenbang. ”Semua elemen masyarakat tetap akan disosialisasikan.” (sas/isk/ce1)