Menolak Lakukan Pembelaan

354

SMG 20140204.inddSidang Suap Hakim Tipikor Pragsono dan Asmadinata

MANYARAN — Dua mantan hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang, Pragsono dan Asmadinata, kemarin (3/2) menjalani sidang perdana kasus dugaan suap penanganan perkara penyimpangan anggaran DPRD Grobogan di Pengadilan Tipikor Semarang. Dalam sidang itu, Pragsono dan Asmadinata menolak melakukan nota pembelaan. Keduanya lebih memilih langsung pada pembuktian dan pemeriksaan saksi.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yakni Fitroh Roh Cahyanto, Siswanto, dan Surya Nelli, bergantian membacakan dakwaan. Berkas kedua mantan hakim Tipikor tersebut dipisah menjadi dua. Sehingga persidangan dilakukan bergantian dari Asmadinata lalu Pragsono.
Persidangan mantan hakim ad hoc Asmadinata dipimpin Wakil Ketua PN Semarang, Dwiarso Budi Santiarto. Ia didampingi hakim ad hoc Agus Prijadi dan hakim karir Erintuah Damanik. Sementara, persidangan terdakwa Pragsono dipimpin langsung oleh Kepala PN Semarang, Mariyana, didampingi dua hakim ad hoc Kalimatul Jumro dan Robert Pasaribu.
”Langsung ke pembuktian saja. Tidak ada nota pembelaan,” kata Asmadinata di hadapan majelis hakim yang dipimpin Dwiarso Budi Santiarto .
Sementara pada sidang yang dipimpin hakim Mariyana, Pragsono juga menyatakan tidak akan mengajukan keberatan. ”Langsung pembuktian,” ujar Pragsono. Selain itu, pihak Pragsono juga tidak akan mengajukan adanya saksi meringankan untuk dirinya.
Jaksa mendakwa Asmadinata dan Pragsono ikut ambil bagian terhadap uang Rp 150 juta yang diberikan oleh Sri Dartutik, adik Ketua DPRD Kabupaten Grobogan (nonaktif), M. Yaeni, kepada kedua terdakwa. Uang tersebut diduga bertujuan untuk memengaruhi putusan. ”Kegunaan uang untuk memengaruhi persidangan perkara pemeliharaan mobil dinas dengan tersangka M. Yaeni,” ujar jaksa.
Meski berkas keduanya terpisah, namun materi dakwaan sama. Jaksa penuntut umum menjerat Pragsono dan Asmadinata dengan pasal 12 huruf c dan pasal 6 ayat 1 huruf a UU Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambahkan dalam UU Nomor 20 tahun 2001 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Jaksa Siswanto menjelaskan, keduanya bersama-sama hakim Kartini Juliana Mandalena Marpaung, Heru Kisbandono telah bersepakat menerima suap sebesar Rp 150 juta  dari mantan Ketua DPRD Grobogan M. Yaeni melalui adiknya, Sri Dartutik.
Majelis hakim menunda sidang Asmadinata pada Selasa (11/2) pekan depan. Sedangkan sidang terdakwa Pragsono akan dilanjutkan Senin (10/2) pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi. ”Tanggal 10 dan 17 Februari pemeriksaan saksi. Lalu 10 Maret tuntutan. Dan tanggal 24 Maret putusan untuk terdakwa Pragsono,” papar hakim ketua, Mariyana.
Kedua terdakwa melenggang dengan santainya ketika persidangan usai. Keduanya tersenyum saat diabadikan oleh fotografer. Bahkan, Pragsono sempat memeluk erat kerabat wanitanya yang hadir di persidangan. ”Ini ujian Tuhan,” kata Pragasono sembari berjalan masuk ke mobil tahanan yang akan membawanya ke jeruji besi Lapas Kelas I Kedungpane Semarang.
Sebelum sidang kemarin, Pragsono nampak begitu tenang. Ekspresi wajahnya terlihat riang ketika mengobrol dengan sejumlah pengacara dan pegawai pengadilan maupun kerabat yang mengunjunginya. Bahkan sesekali ia nampak tertawa terbahak-bahak. Saat sidang dengan agenda pembacaan dakwaan pun Pragsono tetap tampak tegar dan tersenyum. Mengenakan baju safari, Pragsono juga sempat bercanda dengan sejumlah awak media.
Pragsono mengaku memang dirinya sudah siap lahir dan batin. Selain kesiapannya menjalani sidang, hal yang membuatnya lega adalah keikhlasan keluarganya, yakni istri dan dua anaknya yang masih kecil. ”Saya maupun keluarga saya sudah siap lahir dan batin,” akunya.
Keikhlasan itu lantaran dirinya sudah menganggap semua yang terjadi menjadi risiko atas pengabdiannya sebagai hakim karir yang dilakoninya selama belasan tahun. Selain itu, ia meyakini bahwa Tuhan sang penguasa jagat raya mengetahui betul apa yang terjadi pada dirinya. ”Barangkali para hakim di sini tidak tahu bahkan para awak media tidak tahu saya sebenarnya bagaimana, tapi Tuhan tahu tentang saya sepenuhnya, jadi semua saya kembalikan kepada Tuhan,” ujarnya.
Pria kelahiran Purworejo itu mengaku jika dirinya tidak memiliki harta kekayaan yang dapat menolongnya dalam kasus ini. Namun ia merasa cukup, lantaran memiliki teman kerja yang baginya turut memperhatikan dirinya yang sedang kesusahan. Meskipun hanya lewat doa.
”Bondo (harta, Red) saya itu ya cuma teman saja. Teman kerja, dan teman pengacara yang sudah bersedia mendampingi saya dalam sidang ini. Itu sudah cukup membesarkan hati saya untuk kuat dan siap menjalani sidang ini,” kata Pragsono yang pernah didapuk sebagai Ketua PN Batang itu.
Selama menghuni Lapas Kelas IA Kedungpane, Semarang untuk menjalani tahanan, Pragsono mengaku lebih dapat menenangkan diri. ”Aktivitasnya hanya jalan-jalan dan baca-baca buku saja,” tutur hakim Pengadilan Tinggi Padang (nonaktif) ini.
Berbeda dengan Pragsono yang nampak terbuka terhadap media, Asmadinata justru terkesan tertutup. Bahkan hakim ad hoc yang dipecat dengan tidak hormat oleh Majelis Kehormatan Hakim (MKH) Mahkamah Agung (MA) RI itu enggan buka mulut saat sejumlah media mencecarnya dengan sejumlah pertanyaan terkait dakwaan jaksa KPK. Asmadinata hanya berlalu sembari melambaikan tangan, tanda ia enggan memberikan komentar. (bud/mg7/mg9/jpnn/aro/ce1)