Kerugian Banjir dan Tanah Longsor Rp 1 T

329

GUBERNURAN–Pemprov Jateng akan meminta bantuan dana kepada pemerintah pusat untuk penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir dan tanah longsor. Nilai kerugian akibat bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi pada sejumlah wilayah di Jateng diperkirakan mencapai Rp1 triliun.
“Kerugian material akibat bencana banjir dan tanah longsor di Jateng diperkirakan mencapai Rp1 triliun lebih,” kata Gubernur Jateng Ganjar Pranowo kepada wartawan seusai memimpin rapat koordinasi (rakor) penanggulangan bencana di Lantai II Kantor Gubernur, Kamis (6/2).
Rakor penanggulan bencana dihadiri para kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) Pemprov Jateng, Badan Penanggulang Bencana Daerah (BPBD) Jateng, dan pihak terkait lain.
Gubernur lebih lanjut menyatakan, sudah bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat melakukan kunjungan di Pekalongan, Rabu (5/2), membahas tentang penangan pascabanjir di Jateng.
Dalam pertemuan itu juga dihadiri Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa dan Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto. “Presiden bertanya bagaimana Pak Gub, saya sampaikan butuh dana banyak dan mohon untuk dibantu. Presiden bilang oke serta minta untuk dilakukan pendataan,” ungkap Ganjar.
Selain dana dari pemerintah pusat, lanjut gubernur, pihaknya masih menghitung dana dari APBD Jateng 2014 yang masih bisa direalokasi untuk penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
”Mumpung APBD Jateng 2014 belum dilaksanakan, maka mana-mana anggaran yang masih bisa dirubah atau direalokasi,” tandasnya.
Untuk itu, kata Ganjar, kemungkinan Jateng akan mendahului pembahasan APBD Perubahan 2014, supaya dana penanganan pascabenacana bisa bertambah. “Kita minta izin kawan-kawan di DPRD Jateng bisa menyetujui berapa anggaran yang bisa diregrup dan direalokasi akan kita lakukan,” imbuhnya.
Gubernur menambahkan, pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabenacana banjir dan tanah longsor membutuhkan dana cukup besar, terutama infrastruktur jalan yang rusak parah. ”Untuk perbaikan jalan-jalan nasional yang rusak di jalur pantura saja diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp300 miliar lebih, belum perbaikan jalan provinsi,” paparnya.
Sementara, dalam rakor terungkap nilai kerugian paling besar yakni sektor pertanian yang mencapai Rp 516 miliar. ”Kerugian tanaman padi yang gagal panen senilai Rp 495 miliar, sedangkan untuk bawang senilai Rp4,4 miliar,” kata Kepala Dinas Pertanian Tanamanan Pangan, dan Hortikultura, Suryo Banendro.
Kemudian disusul sektor perikanan senilai Rp113,9 miliar akibat rusaknya tambak bandeng, dan udang milik petani yang diterjang banjir. ”Areal tambak milik petani di beberapa daerah, seperti Kudus, Pati, Pekalongan, Batang, dan Pemalang yang rusak akibat banjir seluas 14.783 hektare dengan nilai kerugian Rp113,9 miliar,” ungkap Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng, Lalu Muhamad Syafriadi. (ric/aro)