Ongkos Bajak Meningkat

339

TEMANGGUNG—Biaya pembajakan ladang menjelang musim tanam tembakau menggunakan mesin lebih mahal dibanding dengan bajak manual dengan tenaga hewan. Hal yang sama juga terjadi pada lahan sawah. Dampaknya, para petani mengalami pembengkakan biaya produksi pada musim tanam paruh tahun ini.
Pudjiono, 57, warga Dusun Gorukem Desa Campuramom Kecamatan Bansari mengatakan, membajak dengan traktor satu kisuk (1.200 meter persegi) dengan waktu pukul 08.00-12.00 ongkosnya sebesar Rp 125 ribu, sedangkan bila sehari Rp 250 ribu.
”Ongkos tersebut lebih mahal bila dibandingkan dengan menggunakan tenaga hewan seperti kerbau maupun sapi, yakni Rp 100 ribu per-kesok,” katanya.
Namun, mencari hewan untuk membajak lahan di daerah ini sudah sangat sulit. Padahal, paparnya, membajak dengan tenaga hewan lebih baik mengingat kotoran hewan saat membajak dapat digunakan rabuk, selain juga bebas asap.
Ia mengemukakan, pembajakan lahan ini akan digunakan untuk tanaman tembakau, mengingat saat ini sudah memasuki akhir Maret. Disebutkan, biasanya musim tanam di areal ndeles (tegalan dengan ketinggian 700 meter) sudah dimulai sejak awal Maret, untuk lahan tegal banyon (lahan tegalan yang masih teraliri air irigasi) dimulai akhir Maret hingga April.
Sedangkan untuk lahan persawahan biasanya memulai tanam bulan Mei ataupun bahkan ada yang memulai tanam pada awal Juni. Mulai tanam kalangan petani itu dilakukan hanya berpatokan dengan mongso, yang sudah berjalan turun menurun. Oleh karenanya, kalangan petani meminta prakiraan cuaca untuk masa tanam, termasuk masa tanam tembakau.
Pudjiono bersama petani lain berharap pada masa panen raya tembakau 2014 ini harganya bagus, mengingat kondisi harga pada panen tahun kemarin kurang begitu menggembirakan. (zah/lis)