Kurang Lahan, PG Sragi Merugi

324

KAJEN-Pabrik Gula (PG) Sragi, Kabupaten Pekalongan mengalami kerugian hingga miliaran rupiah dalam setahun. Hal ini karena kekurangan lahan tanaman tebu, sehingga tidak bisa memanfaatkan 365 hari kerja selama setahun. PG Sragi hanya bisa memanfaatkan waktu selama 142 hari kerja saja.
Kepala Administratur PG Sragi, Teguh Agung Tri Nugroho, menjelaskan bahwa pada 2014 ini, PG Sragi hanya memproduksi gula sebesar 3,4 juta kuintal, selama masa giling 142 hari kerja. Produksi tersebut, dengan estimasi rendemen giling 7,91 persen dari luas lahan yang dikelola seluas 550 hektare.
“Harusnya luas lahan PG Sragi lebih dari 550 hektare, agar tidak merugi setiap tahun,” jelas Tri Nugroho dalam acara pesta giling tebu, Senin (5/5) siang kemarin, di PG Sragi, Desa/Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan.
Meski pihak manajemen PG Sragi, katanya, telah melakukan transparasi soal penilaian rendemen gula pada tebu, namun minat petani untuk menanam tebu di Kabupaten Pekalongan masih rendah.
Menanggapi hal itu, Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu, Kabupaten Pekalongan, Haji Slamet mengungkapkan kurang berminatnya petani padi beralih ke tebu, karena kurang menjanjikan. Terlebih kondisi cuaca pada tahun ini, sangat berbeda dengan tahun sebelumnya, sehingga mempengaruhi kualitas tebu.
”Keadaan tebu semakin parah, ketika hujan lebat pada awal tahun lalu. Bahkan sebagian besar areal tebu tergenang banjir, akibatnya sistem pengakaran membusuk,” kata Slamet yang hadir di dalam acara pesta giling tebu.
Sebenarnya, pihaknya berharap pada musim tebang sekitar bulan Juli-Agustus nanti, harga gula bisa naik, sehingga petani bisa mengembalikan modal. ”Kalau bulan Juli-Agustus nanti, harga gula naik. Maka petani tebu akan untung, begitu juga sebaliknya,” tegas Slamet.
Kendati begitu, Bupati Pekalongan, Amat Antono mengharapkan segenap elemen turut menjaga kekompakan dengan pola kemitraan yang saling menguntungkan dan petani padi mau beralih ke tebu. “Ikatan yang bisa saling menguatkan antara pengusaha dan petani tebu adalah untuk berkepentingan menyejahterakan masyarakat. Karena itu, mari kita evaluasi bersama,” tutur Amat Antono. (thd/ida)