Pengembangan Olahraga Minim Anggaran

321

BAWEN — Untuk mengembangkan dan meningkatkan prestasi di bidang olahraga— utamanya sepak bola di Kabupaten Semarang—dibutuhkan kerja sama pemerintah, perusahaan swasta, juga masyarakat.
Pemkab mengklaim minim anggaran, sehingga perlu dukungan semua pihak.
”Kita tahu di sini (Kabupaten Semarang) banyak bibit unggul sepak bola, tapi kita kesulitan anggaran (untuk mengembangkannya). Jadi, kami mengapresiasi jika ada perusahaan yang membantu untuk pengembangan olahraga, saya terima kasih karena CCAI (Coca-Cola Amatil Indonesia) selalu membina olahraga utamanya sepak bola di sini,” kata Bupati Mundjirin usai membuka pelatihan sepak bola Coke Kicks yang digelar CCAI (Coca-Cola Amatil Indonesia) bagi anak-anak desa di Tegalrejo, Kelurahan Bawen, Minggu (4/5) pagi kemarin. Yang penting, sambung bupati, masyarakat mau. ”Jadi gayung pun bersambut.”
Menurut Bupati Mundjirin, Pemkab telah berupaya meningkatkan olahraga, dengan menyiapkan sarana dan prasarana. Seperti pembangunan GOR dan stadion untuk sepak bola di Wujil, Bergas. Juga menggelar pertandingan dan kompetisi.
Pelatihan sepak bola berlabel Coke Kicks, diharapkan bisa membantu meningkatkan kemampuan bersepak bola anak-anak desa. Sehingga dapat diperoleh bibit unggul atlet sepak bola yang dapat berkiprah di tingkat regional, bahkan internasional.
”Alhamdulillah, atlet kita juga mendapatkan prestasi yang bagus. Kita tahu, dari badan sehat akan punya jiwa yang kuat, jadi bisa berprestasi, pintar dan kreatif. Ayo prestasi apa saja bagus. Prestasi yes, narkoba dan tawuran no,” ujar Bupati.
Coke Kicks diselenggarakan oleh CCAI sejak 2011. Tahun ini, merupakan tahun keempat, dan telah memberikan pelatihan kepada 2.800 anak-anak dan 140 pelatih lokal di 14 kota di Indonesia.
Di Semarang, program ini diikuti 200 anak-anak yang diselenggarakan di Bawen dan dilatih oleh pelatih profesional Asean Soccer Academy (ASA).
Direktur ASA, Lee Hawkins mengatakan, Coke Kicks bertujuan membangun fondasi perkembangan dasar anak-anak dalam bermain sepak bola. Mereka dilatih teknik bermain bola. Pun, para pelatih dari masing-masing desa, diajarkan cara melatih secara profesional.
Pelatihan kali ini berbeda dengan pelatihan lainnya. Sebab, ada sesi train the trainer. Yakni, pelatih lokal diberi pelatihan khusus. Sehingga mereka bisa melatih peserta didiknya dengan lebih memadai.
Di tempat yang sama, Media & Communications CCAI, Ruth Davina, mengatakan, pelatihan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan inspirasi agar anak-anak dan pemuda desa agar tetap berlatih sepak bola. Sehingga dapat tercipta komunitas-komunitas sepak bola yang dapat terus komitmen mengembangkan sepak bola di masing-masing desa. (tyo/isk/ce1)