Perilaku Kembali ke Tahun 1872, Pendakian Ditutup

289

Warga Harus Pahami Karakteristik Gunung Merapi

Gejala erupsi Gunung Merapi tahun ini susah diprediksi seperti di tahun-tahun sebelumnya. Perilaku ini disebut oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mirip dengan fenomena tahun 1872.       

Menurut ahli geologi BPPTKG Dewi Sri Sayudi kegempaan di Gunung Merapi tidak terpola. Kadang aktivitasnya tinggi kadang rendah. Untuk itu perlu sekali dilakukan pemantauan terus menerus.
“Setelah erupsi 2010 banyak sekali letusan-letusan kecil. Hal itu juga terjadi di tahun 1872,” kata Dewi Sri Sayudi  usai sosialisasi karakter Merapi di Kecamatan Dukun, kemarin.       
Masyarakat, kata dia, juga perlu memahami karakteristik Gunung Merapi. Termasuk kode peringatan yang ditentukan petugas. “Pemahaman kepada masyarakat tentang kenaikan status dari aktif normal ke waspada. Kalau masih dalam status level II ini masyarakat di sekitar Merapi tetap bisa beraktivitas normal,” katanya.       
BPPTKG hanya melarang pendakian ke puncak Gunung Merapi. “Pendakian ke Merapi ditutup karena seputaran puncak sangat berbahaya,” kata Dewi Sri.
Sementara itu, Gunung Merapi kembali mengeluarkan suara dentuman pada Senin kemarin. Tercatat delapan kali suara dentuman pada pukul 01:46, 04:49, 04:55, 06:03, 09:17, 09:30, 09:40 dan 09:43 WIB.        
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang mulai mempersiapkan warga di wilayah kawasan rawan bencana III (KRB III) erupsi Merapi untuk mengungsi. BPBD mengumpulkan para kades dan perangkat desa se-Kecamatan Dukun dan Kecamatan Srumbung untuk mengatur evakuasi masyarakat.       
Kepala BPBD Sujadi mengatakan pihaknya telah membentuk desa saudara (sister village) di 19 desa di wilayah KRB III erupsi Merapi. Sister village ini dibentuk di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Sawangan (3 desa), Kecamatan Srumbung (8 desa) dan Kecamatan Dukun (8 desa).        
Sembilan belas desa tersebut berpasangan dengan desa-desa di Kecamatan Muntilan, Srumbung, Mungkid, Pakis, Candimulyo, dan Mertoyudan. “Jika terjadi bencana maka warga 19 desa tersebut mengungsi ke wilayah pasangannya,” tambah Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Magelang Joko Sudibyo. (vie/lis)