Harga Anjlok, Cabai Dicabuti

268

TEMANGGUNG—Dampak anjloknya harga komoditas cabai, para petani memilih untuk mencabuti tanamannya. Harga jual dan biaya produksi selisih rugi tinggi dan para petani akan menambah biaya produksi untuk melakukan pemanenan.
Para petani di Desa Danurejo, Kecamatan Kedu, mengaku memilih untuk merusak tanaman cabainya dan menggarap lahannya untuk ditanami komoditas lain. Sebab, biaya panen yang harus dilakukan dengan harga jual tidak sebanding, belum lagi dibandingkan dengan biaya produksi sebelumnya. “Sekarang harganya menurun dan tidak sebanding,” kata Sahwan, 49, salah seorang petani.
Ia mengatakan, harga untuk cabai setan merah hanya dihargai Rp 6 ribu per kilogram, sedangkan harga harga cabai sret hijau hanya Rp 3 ribu. Kondisi ini membuat para petani merugi hingga jutaan rupiah. Sebab biaya untuk menanam cabai dalam 3000 bibit cabai sedikitnya dibutuhkan modal Rp 4 juta. “Kalau harganya sudah seperti ini, petani pasti kerugian hingga jutaan rupiah, karena untuk memetik saja juga harus membayar pekerja,”ungkapnya.
Untuk itu, sebelum merugi lebih banyak, ia memilih mencabuti semua tanaman cabainya diganti dengan brokoli. “Dari pada semakin rugi mending saya cabuti saja. Apalagi, cabai milik saya ini juga terserang patek, untuk mengobatinya juga butuh biaya yang tidak sedikit, mending saya ganti dengan tanaman yang lainnya,” ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Rudiwanto, 34, petani lain di Desa Kwadungan Jurang Kecamatan Kledung. Ia juga mencabuti tanaman cabainya.  “Jelas merugi, dari lahan milik saya sekitar satu hektare, dari biaya tanam, perawatan dan pemetikan membutuhkan modal sekitar Rp 15 juta, sekarang harganya cuma Rp 6 ribu per kilogram, padahal hasil panen tidak maksimal. Lebih baik saya ganti dengan tanaman tembakau saja yang lebih aman dari serangan hama,” terangnya.
Ia menuturkan, selama ini tidak pernah ada pendampingan dari petugas penyuluh lapangan (PPL) dari dinas pertanian. Padahal di setiap kecamatan ada Unit Pelayanan Teknik Daerah (UPTD).(zah/lis)