Sindoro Tetap Aktif Normal

359

TEMANGGUNG—Informasi yang dilansir koran harian nasional tentang kenaikan status yang terjadi di Gunung Sindoro dibantah oleh petugas Pos Pengamatan Gunung Api Sindoro-Sumbing. Kenaikan status yang terakhir pada 2011 lalu ini, sekarang tetap aktif normal. Munculnya kepulan asap merupakan aktivitas normal yang dialami gunung pembatas Kabupaten Temanggung dan Wonosobo tersebut.
“Aktivitas gunung Sindoro di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Wonosobo sampai saat ini masih tetap normal, tidak ada peningkatan aktivitas kegempaan,” kata petugas Pos Pengamatan Gunung Berapi Sindoro-Sumbing, Yuli Rahmatulloh.
Ia mengatakan, membumbungnya asap sulfatara di puncak Sindoro terjadi setiap hari sebagai hal wajar dan tidak perlu dirisaukan. Asap putih tersebut kadang terlihat kadang tidak.  “Masyarakat jangan terpengaruh isu. Status Gunung Sindoro normal, tidak ada peningkatan aktivitas,” katanya di Pos Pengamat Gunung Api Sindoro – Sumbing di Desa Gentingsari Kecamatan Bansari.
Ia mengatakan, memang sempat ada peningkatan kegempaan pada 6-8 Maret 2014, namun setelah itu normal kembali.  Ia menuturkan, setelah status Sindoro dinyatakan waspada pada Desember 2011 hingga Maret 2012, kepulan asap sulfatara sering terlihat di puncak Sindoro. “Pada Selasa pagi asap sulfatara dengan ketinggian sekitar 50 meter dari puncak kawah,” katanya.
Ia mengatakan, pendakian di Gunung Sindoro tetap dibuka tetapi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi merekomendasikan agar pendaki tidak mendekati bibir kawah dalam jarak dekat, karena sering mengeluarkan gas beracun yang bisa menyebabkan kematian.
Kepala Subbid Evaluasi Potensi Bencana Gunung Berapi  Pusat Volkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Bandung, Agus Budiyanto, mengatakan ada tahapan-tahapan tertentu untuk menentukan status sebuah gunung berapi, dari normal, waspada, siaga, dan awas.
“Kondisi Gunung Sindoro saat ini berstatus normal. Namun, sejak 2011 Gunung Sindoro bukan yang dulu lagi sehingga perkembangannya perlu dipantau terus,” katanya saat mengisi kegiatan sosialisasi mitigasi bencana di sejumlah daerah di sekitar Gunung Sindoro di Desa Gentingsari, Kecamatan Bansari.
Kasi Kebencanaan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Temanggung, Gito Walngadi, mengatakan, BPBD melakukan sosialisasi mitigasi bencana gunung api di empat kecamatan di kawasan Gunung Sindoro, yakni Kecamatan Bansari, Candiroto, Kledung, dan Ngadirejo. “Pada tahun anggaran 2014 ini kami juga melakukan sosialisasi mitigasi bencana longsor di Kecamatan Bejen,” katanya usai sosialisasi mitigasi bencana gunung api di Desa Gentingsari, Kecamatan Bansari.
Ia mengatakan, sosialisasi diikuti oleh unsur pemuda, perangkat desa, dan tokoh masyarakat dengan menghadirkan pembicara dari PMI Temanggung, Koramil Parakan, dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung.
Ia menuturkan, kegiatan ini diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kebencanaan di daerah rawan bencana dan masyarakat bisa lebih dini siap dalam penanganan kebencanaan. “Di Temanggung telah dibuat peta kerawanan bencana dan jalur evakuasi di kawasan Sindoro, jadi bila ada ancaman bisa lekas tertangani,” katanya. (zah/lis)