Gubernur Minta BPK Audit Percetakan Soal

351

SMG 20140508.inddTertukarnya Soal Unas di Kendal

KENDAL—Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Perwakilan Jateng untuk melakukan audit terhadap perusahaan yang mencetak soal ujian nasional (unas) di Jateng. Hal itu menyusul ada dugaan soal yang didistribusikan ke sekolah-sekolah tidak jelas alias buram serta tertukar.
Menurut Ganjar, tulisan buram sudah masuk dalam kualitas pengadaan yang telah melalui ketentuan spesifikasi dalam kontrak pekerjaan. Sehingga jika tidak sesuai, menurutnya, sudah masuk dalam pelanggaran.
“Kalau memang iya (ada temuan tulisan naskah soal tidak jelas, Red), hal itu sudah masuk dalam kualitas pengadaan. Itu suruh saja BPK untuk cek dan memeriksa dengan melakukan audit (perusahaan percetakannya, Red),”  ujar Ganjar usai melakukan inspeksi mendadak (sidak) di kantor Samsat Kendal, kemarin (7/5).
Dengan dilakukan audit, menurut Ganjar, bisa diketahui kualitas hasil pekerjaan apakah sudah sesuai atau ada pengurangan spesifikasi yang telah ditentukan dalam kontrak pekerjaan. Dan, jika tidak sesuai, maka temuan ketidaksesuaian hasil pekerjaan itu sudah masuk dalam ranah pidana karena bisa merugikan negara.
Terkait kasus tertukarnya soal mata uji Matematika dengan Bahasa Inggris di MTs Muhammadiyah 1, Weleri, Kendal, pihaknya sudah memerintahkan kepada Kepala Dinas Pendidikan Jateng Nurhadi Amiyanto untuk melakukan pemeriksaan. Apakah kesalahan ada pada percetakan atau kesalahan petugas dalam mendistribusikan soal?
“Kami belum cek langsung ke percetakan, sebab belum sampai sedetail itu. Kalau human error (petugas pendistribusi soal) cukup kasih peringatan, agar tidak terulang lagi,” tandasnya.
Koordinator Distribusi Soal Unas Dinas Pendidikan (Disdik) Kendal Sri Mulyani mengakui kasus tertukarnya soal unas di MTs Muhammadiyah 1 Weleri adalah kesalahan petugas Disdik, dan bukan kesalahan percetakan. Hal itu dikarenakan amplop pembungkus soal warnanya mirip.
“Amplop soal Matematika warna oranye, sedangkan amplop soal Bahasa Inggris warna merah. Jadi ada kesalahan pada saat petugas memilah soal. Karena pemisahan dilakukan pada malam hari, sehingga dua warna tersebut agak-agak mirip” tandasnya.
Ia menjelaskan, soal unas yang didistribusikan dari percetakan masih campur aduk dengan soal-soal lainnya. Kemudian petugas disdik harus memisahkan berdasarkan kategori soal yang diujikan setiap harinya. “Jadi, pada malam hari dipilah-pilah dan dihitung berdasarkan jumlah subrayon yang ada. Kemudian pukul 03.30 dini hari mulai didistribusikan ke tujuh subrayon yang ada,” jelasnya.
Namun kesalahan itu sudah diantisipasi dengan mengganti soal dari Subrayon Unas Weleri Barat. Ia juga menjamin tidak ada kebocoran soal Bahasa Inggris. “Hari ini (kemarin, Red), ujian berjalan lancar dan tidak ada kesalahan pendistribusian soal ataupun kebocoran,” akunya.
Penjelasan Sri Mulyani ini bertolak belakang dengan pernyataan Kepala Dinas Pendidikan Kendal Muryono sebelumnya. Saat itu, Muryono menegaskan kalau tertukarnya soal itu bukan kesalahan pengawas maupun koordinator distribusi soal. Sebab, saat didistribusikan, semua amplop berisi soal telah diperiksa, dan hasilnya tidak ada kesalahan. Dalam arti, cocok sesuai mata uji dan jumlah siswa yang ada.
“Kesalahan ada pada percetakan di Semarang yang salah memasukkan soal Bahasa Inggris ke dalam amplop untuk soal Matematika. Tapi, semua sudah kami tangani, jadi unas di MTs Muhammadiyah I Weleri bisa berjalan normal,” katanya.
Hal senada diungkapkan Kepala MTs Muhammadiyah I Weleri Mahmudi. Menurut Mahmudi, saat membagikan soal Matematika, pengawas tidak menaruh curiga. Sebab, amplop soal masih dalam keadaan tersegel. Selain itu, di amplop luar tertulis soal unas Matematika. ”Tapi, saat dibagikan, ternyata isinya tidak sesuai dengan tulisan di amplop. Isinya justru soal-soal Bahasa Inggris,” ujar Mahmudi. (bud/aro)