Petani Beralih ke Abu Vulkanis

244

KLATEN-Kelangkaan pupuk yang masih terus berlanjut membuat petani harus memutar otak untuk mencari solusi. Karena sudah sebulan terakhir tidak mendapat pupuk, akhirnya petani di Desa Menden, Kecamatan Manisrenggo memanfaatkan abu vulkanis dari Gunung Kelud untuk dijadikan pupuk.
Inilah yang dilakukan Prapto Suharno, 45, petani asal Menden untuk menyuburkan tanaman padi miliknya. Sudah sebulan terakhir dia bersama ratusan petani di desanya sulit mendapat pupuk urea ke pengecer. Tidak hanya pengecer di desanya, dia sudah mencari hingga radius 10 kilometer. Tapi, hasilnya tetap nihil.
“Kami belum juga mendapatkan pupuk sesuai dengan kebutuhan tanaman. Akhirnya, saya memanfaatkan abu vulkanis yang saya kumpulkan beberapa bulan lalu. Abu tersebut saya campur dengan pupuk urea yang merupakan sisa musim tanam sebelumnya. Pupuk tersebut kemudian disebar ke lahan yang ditanami padi,” ungkapnya.
Dia tidak tahu apakah dengan cara tersebut akan mampu menumbuhkan tanaman padi hingga maksimal. Karena baru kali pertama percobaan untuk mencampur pupuk dan abu vulkanis dilakukan. Dia berharap dengan cara tersebut hasil panen tidak mengalami penurunan.
“Tanaman padi saya sudah berumur sebulan, kalau tidak segera dipupuk saya khawatir mudah terserang penyakit. Saya sudah berusaha untuk menghubungi teman di daerah lain ternyata kondisinya hampir sama. Mereka kesulitan mendapat pupuk urea,” tambahnya.
Pengecer hingga saat ini tidak dapat berbuat banyak dengan kelangkaan pupuk bersubsidi yang sudah berlangsung sebulan terakhir. Mereka bahkan terkena dampak dari tidak adanya stok pupuk yang dicari petani.
“Saya pernah dimarahi petani yang sudah bolak balik ke rumah untuk mencari pupuk. Tapi karena memang stok tidak ada, saya tidak dapat berbuat banyak. Saya sudah menghubungi distributor ternyata kondisinya juga hampir sama,” ungkap Mujiyono, pengecer asal Desa Solodiran, Kecamatan Manisrenggo.
Dia mengungkapkan, pupuk sudah tidak ada stok di tokonya mulai dari Urea, ZA dan Phonska. Jenis pupuk tersebut paling banyak dicari petani. Biasanya digunakan untuk menyuburkan tanaman padi, palawija.
“Sebagai pengecer kami minta kepada Pemkab Klaten segera mengatasi permasalahan ini. Kasihan pengusaha kecil seperti saya yang akhirnya menjadi sasaran kemarahan petani. Kondisi sudah berlaru-larut sejak sebulan terakhir,” jelasnya. (oh/bun/ida)