Timbangan Pedagang Tidak Standar

276

DEMAK-Sekitar 10 ribu pedagang di pasar tradisional di wilayah Demak, 30 persen timbangannya tidak memenuhi standar. Akibatnya, konsumen dirugikan. Sebab, barang yang dibeli tidak sesuai ukuran yang semestinya. Misal, ada timbangan yang diganjal sehingga ukuran berat timbangan melenceng dari yang sebenarnya. Ada pula timbangan yang rusak dan perlu diperbaiki atau dilas lagi agar layak digunakan.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Pemkab Demak, Eko Pringgolaksito, kemarin. Menurutnya, untuk melindungi konsumen, pihaknya dalam beberapa hari ini melakukan penyisiran dan gencar memberikan sosialisasi kepada para pedagang pemilik timbangan di pasar tradisional supaya dilakukan tera ulang. Sasarannya adalah timbangan jenis dacin, kodok dan jenis lainnya yang biasa dipakai pedagang.
“Demak merupakan salah satu daerah di Jateng yang tertib ukur. Karena itu, timbangan pedagang menjadi perhatian, karena banyak yang tidak tertib ukur. Ada yang sudah karatan dan rusak, namun masih tetap digunakan. Akibatnya tidak memenuhi unsur ukur, takar, timbang dan peralatan (UTTP),” katanya.
Dia menambahkan, selain Demak, daerah tertib ukur lainnya adalah Salatiga, Pekalongan, Kota Semarang dan lainnya. “Untuk di wilayah Demak ini, Pasar Karanganyar kami jadikan pilot project pelaksanaan program nasional dalam rangka perlindungan konsumen tersebut,” jelas dia.  
Untuk melakukan tera ulang timbangan itu, Disperindagkop bekerjasama dengan Balai Metrologi Semarang. Selain itu, dilaksanakan pembinaan, penertiban dan servis timbangan. “Pemantauan timbangan pedagang ini amanat undang-undang sekaligus sudah dipaparkan dalam Alquran pedagang tidak boleh mengurangi timbangan. Jika dilakukan ancamannya masuk neraka. Jadi, kami ingatkan supaya konsumen tidak dirugikan dengan timbangan yang tidak standar,” katanya. (hib/ida)