Andreas Bantah Lakukan Penganiayaan

267

LEMPONGSARI–Andreas Himawan, 38, mengklarifikasi berita berjudul “Ribut di PN, Berakhir di Polisi” yang dimuat Radar Semarang edisi Kamis (8/5) lalu. Ia menilai keterangan pelapor Fenny Suciati Santoso, 23, warga Jalan Tanggul Mas Barat XI, Panggung Lor, Semarang Utara telah menyimpang dari fakta yang sebenarnya. Selain itu, ia sama sekali tidak melakukan penganiayaan.
Andreas menjelaskan, ribut-ribut itu sebenarnya terjadi di tempat parkir depan Pengadilan Negeri (PN) Semarang, dan bukan di dalam ruang sidang. Kejadiannya bermula saat ia selesai mengikuti sidang dengan terdakwa Budi Lilik dan Budi Wawan. Keduanya adik Rita, ibunda Fenny Suciati Santoso.
“Saat itu, saya dimintai keterangan oleh hakim sebagai saksi korban. Kebetulan saya ini korban penganiayaan dengan pelaku Budi Lilik dan Budi Wawan,” jelas Andreas saat klarifikasi di kantor redaksi Radar Semarang, Jumat (9/5).
Usai sidang sekitar pukul 15.30, ia lantas pulang bersama dua orang saksi lainnya, yakni Ali dan Totok. Namun sampai di parkiran mobil, ternyata Fenny Suciati Santoso bersama ibunya, Rita, sudah menunggu di dekat mobil Kijang Krista warna biru bernopol D 1727 WD miliknya. ”Rita dan Fenny itu sempat memaki-maki saya. Tapi, saya nggak sadar, karena saat itu saya lagi menerima telepon. Justru saya diingatkan teman saya yang menelepon, kuwi kok ono rame-rame sopo? Saat itu, saya langsung tutup telepon, dan baru sadar sudah dimaki-maki,” katanya.
Tak hanya dimaki-maki dengan kata-kata kotor, Andreas mengaku juga sempat dihalang-halangi saat mau masuk ke mobilnya. Bahkan, begitu Andreas berhasil masuk mobil, Fenny dan Rita sempat menggedor-gedor kaca dan menendang bodi mobilnya hingga penyok. ”Saat saya mau menutup pintu mobil juga sempat dihalangi Fenny. Akhirnya, saya menutup setengah memaksa. Mungkin saat itu dia (Fenny) terjepit, saya tidak tahu,” ujarnya.
Andreas sendiri membantah kalau dirinya mencekik leher Fenny, termasuk menarik kerah kaosnya sampai sobek. ”Wah, dia ngarang itu. Sama sekali saya nggak melakukan. Banyak saksinya. Tukang parkir dan orang-orang di parkiran pengadilan tahu semua, termasuk dua saksi yang saya bawa, Ali dan Totok,” katanya.
Ia juga tak habis pikir dengan keterangan Fenny kalau kejadiannya di dalam ruang sidang. ”Dilogika saja, masak di ruang sidang bisa ngobrol sampai terjadi ribut-ribut. Selain itu, mana mungkin saksi korban duduk bersebelahan dengan kakak terdakwa,” jelasnya membantah pengakuan Fenny seperti diberitakan Radar Semarang sebelumnya. (aro)