Manis Sudah Dilaporkan ke Balai Konservasi

296

KENDAL—Bayi lumba-lumba di objek wisata Pantai Cahaya Wersut Seguni Indonesia (WSI) di Desa Sendang Sikucing, Rowosari, kini menjadi pusat perhatian pengunjung. Banyak pengunjung penasaran dengan kehadiran keluarga baru di WSI tersebut.
“Dapat kabar, katanya ada bayi lumba-lumba yang baru lahir, makanya anak-anak mengajak ke sini untuk melihat seperti apa bentuknya.  Sebab, lumba-lumba termasuk hewan air yang mamalia. Jadi, ingin melihat bagaimana bayi lumba-lumba itu menyusu induknya,” ujar Wahyudi, 56, warga Brangsong, kemarin.  
Hal senada disampaikan oleh M. Faizun, 25, warga Ngaliyan, Semarang. Ia dan lima temannya penasaran melihat bayi lumba-lumba. “Unik, karena jarang breeding (pembiakan) lumba-lumba yang berhasil.”
Namun, rasa penasaran pengunjung untuk melihat bayi lumba-lumba tak tersalurkan. Sebab, bayi lumba-lumba masih berada di kolam breeding dan konservasi yang tertutup. 
“Saya kira sudah dipentaskan, ternyata pas masuk kolam pementasan lumba-lumba tidak ada. Setelah tanya petugas, ternyata memang belum dipentaskan.”
Menanggapi hal itu, GM Marketing WSI, Ade Kusmana membenarkan bahwa bayi lumba-lumba belum dipentaskan, karena masih harus menyusu. “Bayi lumba-lumba masih akan menyusu dua tahun, baru bisa dipentaskan  umur lima tahun.”
Dikatakan, bayi lumba-lumba baru diberi nama: Manis. Nama tersebut diambil karena sesuai hari kelahiran si bayi, Rabu dengan hari Jawa Legi. “Legi kan artinya manis, jadi kami namakan sementara dia si Manis.”
Kehadiran bayi Manis, oleh WSI, sudah dilaporkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jateng. “Itu bukti bahwa WSI serius merawat mamalia air tersebut,” ujar Direktur Utama WSI, Denny Charso.
Menurut dia, selama ini banyak isu negatif yang menyerang WSI, terkait perawatan lumba-lumba. WSI dituding tak serius merawat lumba-lumba dan hanya mengambil keuntungan dari pementasan lumba-lumba. (bud/isk)