Bikin Pompa Manual, Harus Tahan Hawa Panas

1978

Sasmito, Pandai Besi yang Masih Bertahan di Era Milenium

Kemajuan teknologi membuat sejumlah pekerjaan tak banyak digunakan lagi. Salah satunya keahlian pandai besi. Sasmito merupakan satu dari sedikit pandai besi yang masih bertahan di era milenium.

JOHN WAHID, Gunungpati

Hampir tiap hari Sasmito harus tahan bergelut dengan hawa panas. Hawa yang keluar dari tungku di bengkelnya yang berada di Jalan Raya Gunungpati-Manyaran RT 2 RW V Kelurahan Cepoko Kecamatan Gunungpati. Di bengkel ini, ia tekun memperbaiki berbagai alat pertanian milik pelanggannya yang rusak.
”Banyak warga yang peralatannya rusak selalu memperbaikinya di sini, karena (mereka menilai biayanya) murah,” kata jelas Sasmito saat ditemui di bengkelnya.
Bengkel yang berada di tepi jalan ini sudah ada sejak 1959. Dulu, yang kali pertama membuka adalah Karimin, yang tak lain kakek Sasmito. Ternyata bengkel ini masih bertahan sampai generasi ketiga.
Ruang kerja pria berusia 32 tahun ini cukup sederhana, hanya berdindingkan bambu. Alat kerja utama adalah tungku berisi arang yang membara. Suhunya bisa mencapai ratusan derajat celsius. Di dekatnya terdapat pompa udara yang menjaga agar bara tetap menyala. Pompa ini masih sederhana, kreasi dari Sasmito sendiri. Dibuat dari rangkaian velg roda sepeda yang diputar secara manual hingga mampu mendorong angin dari kantong udara di depannya.
”Peralatan ini (pompa udara, Red) kalau yang modern cukup mahal, jadi saya membuat sendiri agar murah,” katanya. Ia selalu dibantu saudaranya, Nedi, yang bertugas sebagai asisten memutar roda pompa udara.
Martil selalu tersedia di dekatnya. Alat pemukul ini digunakan untuk meratakan besi atau baja yang telah dibakar hingga merah membara. Di sekitarnya berserakan sabit serta cangkul milik pelanggan yang rusak atau tumpul dan menunggu diperbaiki.
Dalam sehari, ia bisa memperbaiki 5 alat pertanian yang rusak. Jika sedang tak ada pelanggan yang meminta jasa memperbaiki alat pertanian, maka Sasmito memproduksi sendiri berbagai macam alat pertanian.
”Sehari itu kalau untuk membuat peralatan itu tidak bisa banyak, tetapi untuk memperbaiki butuh waktu paling dua jam,” akunya.
Biaya perbaikan yang dipungut antara Rp 10.000 hingga Rp 30.000, tergantung kesulitan pengerjaannya. Saat-saat sibuk Sasmito biasanya terjadi saat Jumat Kliwon. Bagi warga sekitar Gunungpati, Jumat Kliwon adalah hari pasaran, saat mereka pergi ke pasar sekaligus memperbaiki alat pertanian yang rusak.
Tak hanya alat pertanian, Sasmito juga pernah mendapat pesanan membuat katana, senjata tajam khas Jepang yang biasa dipakai kaum Samurai. Membuat katana tak bisa sembarangan, harus disesuaikan dengan postur memakainya. Sasmito harus mengukur tinggi badan pemesan katana. Sebab, pada prinsipnya katana tersebut tak boleh sampai menyentuh tanah ketika dipasang di pinggang. ”Yang pesan orang Semarang. Dan pengerjaannya dilakukan selama dua hari,” akunya.
Alat lain yang cukup sulit dikerjakan, menurut Sasmito, adalah membuat gunting bonsai. Ia juga butuh waktu 2 hari untuk menyelesaikan. Bahan baku yang digunakan harus baja, biasanya berasal dari bodi mobil yang rusak. ”Kalau dari besi biasa, tidak lama akan tumpul. Tetapi kalau dari baja maka tajamnya bisa bertahan lama,” katanya. (*/ton/ce1)