Tolak Pabrik Semen, Warga Pasang Bambu Runcing 3 Km

296

PATI–Aksi menolak pembangunan pabrik semen di Pati kembali berlanjut. Kemarin, ratusan warga di Desa Brati, Kecamatan Kayen, menggelar aksi dengan memasang bambu runcing di sepanjang jalan masuk desa.
Bambu runcing yang dipasang, dicat dengan warna merah putih. Kegiatan tersebut diikuti dari berbagai kalangan, baik perempuan dan laki-laki. Selain melakukan penancapan bambu, mereka juga memasang ratusan papan yang bertuliskan penolakan terhadap rencana pembangunan pabrik semen.
Pemasangan bambu runcing dilakukan sekitar tiga kilometer. Di samping difokuskan di jalan, pemasangan juga dilakukan di sejumlah gang masuk dan depan rumah warga. Dalam kesempatan tersebut, mereka juga melakukan orasi dengan menyampaikan komitmennya untuk tidak menjual tanah area pesawahan yang merupakan warisan dari nenek moyang mereka.
Salah seorang warga Widiono mengatakan, pemasangan bambu runcing dan papan penolakan pembangunan pabrik semen sengaja dipasang di jalan masuk desa. Mereka memperkirakan jalan masuk desa tersebut, ke depan akan digunakan sebagai akses pendirian pabrik semen.
”Semangat bambu runcing yang dimiliki bangsa ini yang dulunya mampu membebaskan bangsa dari penjajahan. Hal itu juga yang akan kami gunakan sebagai simbol perjuangan dan pelawanan,” tandasnya.
Menurutnya, aksi yang dilakukan juga merupakan wujud untuk melestarikan alam, utamanya di wilayah Pegunungan Kendeng. Pihaknya mengharapkan, pendirian pabrik semen tidak dilakukan di wilayahnya.
Dikatakan, perekonomian warga sejauh ini sudah bisa tumbuh dengan makmur tanpa adanya pabrik semen. Ribuan warga yang bermukim di daerah tersebut, mampu mengelola hasil sawah untuk mencukupi kehidupan sehari-hari.
Mereka menuding, pendirian pabrik semen akan merusak lingkungan alam. Utamanya bagi sumber pengairan yang saat ini sudah ada. Selain itu, warga juga khawatir bila pabrik didirikan akan menggusur area pesawahan. ”Kami masih bisa bekerja meski kami telah berumur puluhan tahun, kalau ada pabrik, warga yang telah berumur 50 tahun tentu akan sulit mendapat pekerjaan,” katanya.
Sejauh ini, upaya penolakan terhadap investasi dengan nilai triliunan rupiah tersebut terus disuarakan warga sekitar. Bukan hanya kepada pejabat daerah, aspirasi juga disampaikan melalui pemerintah provinsi. (sya/lil/ida)