Tumbuhkan Rasa Peduli Melalui Drama

309

SEMARANG – Menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama dapat dilakukan melalui berbagai cara. Salah satunya adalah melalui drama. Dengan cara ini akan dapat mudah dicerna oleh masyarakat terutama kalangan muda sebagai generasi penerus bangsa.
Seperti yang dilakukan siswa-siswi SMA Loyola Semarang dengan menggelar pentas malam budaya di Grand Ballroom Horison Semarang, Sabtu (10/5) malam. Mengangkat tema The Story of Compassion Must Begin, mereka berhasil memukau sekitar 1.500 peserta yang hadir.
Ketua Panitia Acara, Benedictus Singgih Prasetyo mengungkapkan, tema tersebut diambil dari film Les Misérables yang diangkat dari novel karangan Victor Hugo. Diceritakan, ada seorang laki-laki bernama Jean Valjean yang dijatuhi hukuman penjara selama 19 tahun gara-gara mencuri sebongkah roti. Setelah bebas, Valjean mengubah namanya menjadi Monsieur Madeleine, dan berhasil menjadi seorang wali kota di sebuah kota kecil di Perancis.
Untuk menyelamatkan nyawa seseorang yang tak bersalah, Valjean pun terpaksa menyerahkan diri sehingga dihukum kerja paksa seumur hidup. Namun, kemudian Valjean berhasil melarikan diri dan mengadopsi Cosette, putri tidak sah dari Fantine, seorang perempuan miskin yang pernah ditolongnya, dan ia juga mesti menghindar agar tidak ditangkap lagi oleh seorang inspektur polisi bernama Javert. ”Semua kegiatan pementasan dilaksanakan oleh anak-anak menggunakan bahasa Inggris,” ungkapnya.
Dalam kegiatan tersebut, lanjut Singgih, juga digelar pementasan lain. Seperti pementasan gamelan soepra, dance, komedi, efek multimedia, dan juga siluet. Semua itu dilaksanakan dalam rangka apresiasi seni dan aktualisasi bakat dan minat siswa. ”Jadi tidak hanya mengasah dari sisi akademik juga, tetapi juga hati nurani dan rasa peduli,” imbuhnya.
Untuk mempersiapkan kegiatan tersebut, Singgih mengaku telah mempersiapkan sejak November 2013 yang lalu. Sebelumnya diadakan audisi bagi pemain yang akan tampil. Sehingga pelaksanan acara berjalan lancar dan seperti yang diharapkan. ”Dalam kepanitian, adalah kolaborasi antara guru dan siswa,” imbuh laki-laki yang juga menjadi guru Ekonomi ini.
Dalam acara yang dihadiri oleh kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin mewakili Wali kota Semarang tersebut juga diberikan kenang-kenangan kepada para pemain, sutradara dan juga pelatih. Menurutnya, pihak pemerintah sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan setiap dua tahun sekali ini. ”Animo penonton cukup tinggi. Terbukti H-3 tiket tinggal sedikit,” imbuhnya.
Melalui kegiatan ini, Singgih berharap anak-anak dapat merenungkan serta merefleksikan kepedulian terhadap sesama dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini, sikap tersebut telah mulai luntur di kalangan anak muda. Sehingga dapat mengasah kembali rasa peduli tersebut. ”Setiap pelaksanaan selalu berganti-ganti tema tergantung situasi. Dua tahun yang lalu mengambil tema the sound of music,” imbuhnya. (fai/ida/ce1)