Bangkit Setelah Terpuruk

326

KLATEN–Pada era 1980-an, Kecamatan Jatinom, Klaten, terkenal sebagai daerah penghasil jeruk keprok. Namun, pada 1985, serangan hama citrus vein phloem degeneration (CVBD), membuat petani jeruk terpuruk. Empat tahun terakhir, petani di wilayah ini mulai bangkit.
Seperti yang terlihat di Desa Tibayan, Kecamatan Jatinom petani sudah mulai menikmati jerih payah yang sudah dirintis sejak empat tahun lalu. Tanaman jeruk yang ditanam di ladang mulai berbuah dan siap untuk dipanen.
”Sejak ada serangan hama CVBD, saya sudah empat keempat mencoba untuk menanam pohon jeruk. Namun untuk penanaman yang pertama sampai ketiga hasilnya belum menggembirakan. Banyak tanaman yang tumbuh tidak maksimal karena terjangkit CVBD,” tutur Ngatmo Sunarto, 56, petani Dusun Jurang Boto, Desa Tibayan, kemarin (13/5).
Baru pada pohon yang ditanam kali keempat ini, pertumbuhan pohon mulai menunjukkan hasil yang maksimal. Banyak pohon yang sudah berbuah dan siap dipanen. Di lahan 2.000 meter persegi, dia menanam sekitar 150 pohon.
Pohon tersebut ditanam sejak 2009 silam. Setelah tumbuh sekitar empat tahun, kini pohon jeruk keprok mulai menghasilkan uang. Sudah beberapa kali pohon tersebut berbuah setiap musim jeruk tiba. Bahkan pada musim ini dia sudah berhasil menjual sekitar 2 ton jeruk.
”Dalam sekali musim panen satu pohon jeruk dapat menghasilkan sekitar 50 kilogram jeruk. Saya tidak perlu menjual ke pasar, karena sudah banyak tengkulak yang datang ke ladang untuk membeli jeruk ini,” ungkap dia.
Tanaman jeruk miliknya tidak dipupuk dengan pupuk kimia. Justru pupuk yang digunakan jenis organik berupa kotoran sapi dan air kencing yang sudah disendirikan. Setiap pergi ke sawah dia selalu membawa pupuk untuk disebar ke seluruh tanaman jeruk. (oh/un/ida)