Lihat Orang Utan dan Beruang Madu di Sambodja Lodge

327

Belajar dari Balikpapan yang Gencar Berpromosi sebagai Kota Wisata (2 Habis)

SELAIN wisata pantai, Balikpapan juga menawarkan wisata khas Borneo, yaitu jelajah hutan dan melihat dari dekat rehabilitasi Orang Utan dan Beruang Madu. Salah satu yang banyak dijadikan jujukan bagi wisatawan, terutama dari mancanegara adalah Sambodja Lodge.
Sambodja Lodge berjarak sekitar 38 kilometer dari Kota Balikpapan dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam. Kawasan ini dulunya adalah hutan primer yang gundul akibat illegal logging. Setelah dilakukan penghijauan, Sambodja yang masuk wilayah Kabupaten Kutai Kertanegara ini menjadi hutan sekunder berusia sekitar 13 tahun.
Tempat ini dikelola oleh Borneo Orang Utan Survival (BOS) Foundation yang memiliki cabang di sejumlah negara. Untuk memasuki wilayah ini, pengunjung akan dijemput dengan mobil berpenggerak 4 roda karena medannya cukup berat. Sejumlah wartawan dari Indonesia, termasuk Radar Semarang mengunjungi Sambodja Lodge dalam rangkaian kegiatan yang digelar jaringan hotel Accor untuk merayakan ulang tahun ke-7 Novotel Balikpapan.
Agus Hariyadi, pemandu tour di kawasan tersebut mengatakan pihaknya konsen pada penyelamatan Orang Utan dan Sun Bear atau Beruang Madu yang terancam punah. ”Seluruh pemasukan dari pengunjung yang masuk mulai dari penginapan hingga penjelajahan kami gunakan sebagai donasi untuk merawat Orang Utan dan Beruang Madu,” katanya.
Di kawasan Eco Tour Sambodja, ada 7 pulau Orang Utan dan hanya 1 yang bisa dikunjungi. Disebut pulau karena habitat buatan Orang Utan dibatasi oleh sungai kecil agar hewan primata tersebut tidak kabur. Menurutnya 6 pulau lainnya ditutup bagi pengunjung karena berisi Orang Utan yang siap released (dilepaskan) ke alam liar. ”Total ada 201 Orang Utan yang kami rawat. Baik di pulau maupun kandang individu. Kami memisahkan Orang Utan jantan maupun betina karena tidak menjalankan program reproduksi,” kata dia. Pengembangbiakan Orang Utan dikhawatirkan menimbulkan masalah baru karena donasi yang dimiliki terbatas.
Ratusan Orang Utan tersebut didapat dari penyitaan, pendekatan dengan pemilik kebun sawit, hingga dari kelompok sirkus. Agus menambahkan selain dibunuh oleh manusia, Oran Gutan banyak yang mati akibat terkena parasit dan terserang hepatitis hingga TBC di alam liar. ”Setiap masuk ke kebun sawit, Orang Utan pasti dibunuh karena dianggap hama. Karena itu kami melakukan pendekatan agar mereka tidak dibunuh. Cukup dilaporkan dan kami akan jemput untuk dirawat di sini,” kata dia. Tak jarang, manusia juga membunuh Orang Utan untuk mengambil bayinya dan dijual di pasar gelap.
Sejak berdiri, BOS Foundation telah melepaskan lebih dari 500 ekor Orang Utan ke hutan primer Kalimantan. Orang Utan yang dilepas telah dipasangi chip sehingga dapat dipantau keberadaannya. ”Orang Utan biasanya dilepas dalam usia 10-15 tahun saat mereka dinyatakan sehat dan bisa membuat sarang sendiri,” kata dia.
BOS Foundation juga membangun tempat rehabilitasi Beruang Madu di tempat yang sama. Ada 47 Sun Bear yang dirawat. Hewan yang menjadi maskot Kota Balikpapan tersebut juga terancam punah karena kerap diburu untuk diambil kuku, kulit, dan empedunya. ”Sejak 2002, kami telah melepas sekitar 50 Beruang Madu,” ujarnya.
Selain melihat dari dekat Beruang Madu dan Orang Utan, kawasan Eco Sambodja juga menawarkan paket wisata jelajah hutan belantara dengan didampingi pemandu. Juga menjelajah sungai Mahakam menggunakan perahu. Selain menginap di kamar yang berdampingan langsung dengan hotel, pelancong juga bisa naik ke menara api untuk melihat kawasan hutan secara keseluruhan. Sambodja Lodge lebih banyak dikunjungi turis asing dengan persentase 80 persen dari total pengunjung. Setelah datang, banyak turis asing yang melakukan adopsi Orang Utan, Beruang Madu, maupun pohon langka. Mereka menyerahkan sejumlah donasi agar binatang dan tumbuhan tersebut dirawat dan tak sampai punah. (ric/smu/ce1)