Terdakwa Mengklaim Hanya Dijadikan Alat

263

MANYARAN – Kabag Pembangunan Setda Jepara Winastuti mengaku bahwa dirinya hanya alat untuk menjustifikasi pengerjaan proyek pembangunan jalan lingkungan dan saluran di Jepara tahun 2012.
”Kasus ini di luar kuasa saya. Kesalahan ini tak pernah saya sengaja. Sebagai pengawas proyek, secara teknis saya tidak mengerti betul pekerjaan tersebut,” ungkap Winastuti saat menyatakan nota pembelaan (pledoi) di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang, Senin (12/5).
Winastuti menyatakan, dirinya hanya korban dari sistem yang diciptakan. Dalam pelaksanaan proyek, ia mengaku tidak pernah sekalipun bertemu dengan pemborong. Ia juga tidak pernah menikmati hasil kejahatan yang didakwakan. ”Harta kekayaan tidak seperti yang disangkakan. Rumah saya merupakan hasil kredit. Pun, dua motor yang saya miliki, berasal dari arisan. Untuk mobil dinas, telah saya kembalikan setelah saya memutuskan pensiun muda,” ungkapnya disertai isak tangis.
Dalam kesempatan tersebut, Winastuti juga mengungkap, ia akan mengembalikan penghargaan Satya Lencana yang diberikan oleh Presiden kepadanya. Ia merasa tidak pantas lagi mendapatkan.
”Saya menyesal, karena tidak bisa memberi contoh yang baik lagi,” ungkapnya di hadapan majelis hakim yang diketuai Maryana.
Pembelaan tersebut, diungkapkan terdakwa atas tuntutan JPU dari Kejati Jawa Tengah yang menuntut terdakwa pidana penjara dua tahun, serta membayar denda Rp 50 juta, subsider 5 bulan kurungan.
Jaksa menilai, terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan, melakukan korupsi secara bersama-sama dan melanggar ketentuan dakwaan subsider. Yakni, pasal 3 jo pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan diganti menjadi UU Nomor 20 Tahun 2001 jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.
Sebagai pengawas, terdakwa tidak melakukan pengawasan sebagaimana semestinya. Sehingga pengerjaan proyek tidak sesuai RAB (Rancangan Anggaran Belanja (RAB). Terdakwa juga dinilai telah meneken BAP perampungan jalan. Padahal, jalan tersebut masih dalam tahap pengerjaan.
Selain itu, terdakwa juga membuat dokumen proyek yang tidak sebenarnya. Akibat perbuatan terdakwa, seluruh pengerjaan yang sudah dijalankan, dianggap telah gagal dan masuk sebagai kerugian negara.
Seperti diketahui, proyek pembangunan jalan lingkungan dan saluran di Jepara ini dianggarkan Pemprov Jateng pada 2012 senilai Rp 900 juta. Setelah dikurangi pajak dan lain-lain, anggaran tersisa Rp 818,7 Juta.
Proyek yang dikerjakan oleh CV Jujur Jaya Mandiri ini, dilaksanakan dalam tiga paket kegiatan. Yakni pembangunan jalan beton di Desa Welahan, pembangunan jalan dan saluran di Desa Sidialit, dan pembangunan jalan lingkungan di Desa Bantrung.
Pada kenyataannya, hasil pekerjaan tidak sesuai dengan spesifikasi yang disepakati dalam kontrak. Diduga ada pengurangan kualitas besi yang digunakan untuk pembangunan jalan beton.
Dalam kontrak disepakati spesifikasi besi K250 sampai K275, namun yang terpasang hanya K18 sampai K20. Selain kualitas, volume pekerjaan juga tidak sesuai rencana anggaran belanja dalam kontrak. (fai/isk/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.