Ekstasi Senilai Rp 3,4 Miliar Dimusnahkan

289

MUGASSARI — Direktorat Reserse Narkotika Polda Jateng memusnahkan barang bukti 11.480 butir ekstasi senilai Rp 3,4 miliar, Rabu (14/5). Ekstasi tersebut didapatkan petugas Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) tipe Madya Pabean Tanjung Emas Semarang saat hendak diselundupkan lewat Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang, Rabu (2/4) lalu.
Sebelum dimusnahkan, berbagai barang haram itu diuji oleh Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri Cabang Semarang. Dari tes yang dilakukan, ternyata barang tersebut positif ekstasi.
Dalam pemusnahan yang dilakukan di Mapolda Jateng kemarin juga dihadirkan tersangka Orchide Arwadib Iwary (OAI), 38, warga Jakarta yang berperan sebagai kurir. Pemusnahan dilakukan dengan cara dilarutkan ke dalam air.
”Pemusnahan sesuai dengan surat putusan dari Kejati Jateng nomor 32/0310/IV/2014,” kata Direktur Reserse Narkoba Polda Jateng, Kombes Pol N. Simbolon.
Simbolon mengaku, berkas tersangka dalam proses pelengkapan, dan langsung dilimpahkan ke Kejati Jateng. Meski begitu, pihaknya sampai sekarang masih belum bisa mengungkap siapa otak dari penyelundupan barang haram itu ke Kota Semarang. Termasuk barang akan diberikan kepada siapa.
”Masih terus kami kembangkan. Ini jelas jaringan internasional karena barang dari Malaysia,” ujarnya.
Sebelumnya, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) tipe Madya Pabean Tanjung Emas Semarang berhasil menggagalkan penyelundupan 11.480 butir ekstasi dari Bandara Ahmad Yani Semarang, Rabu (2/4). Barang haram senilai Rp 3,4 miliar itu diselundupkan menggunakan pesawat terbang dari Kuala Lumpur, Malaysia.
Petugas sempat mengamankan kurir ekstasi OAI, 38, warga Jakarta. Tersangka akan dijerat pasal 113 ayat 2 UU No 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman mati atau pidana seumur hidup.
Tersangka mengaku pernah sukses mengirim paket ekstasi melalui Bandara Internasional Juanda Surabaya dan Bandara Adi Sucipto Jogjakarta pada Maret 2014 lalu. Barang tersebut juga berasal dari Kuala Lumpur, Malaysia. Modusnya sama, yakni memasukkan barang ke dalam kardus. Untuk setiap kali mengirim, tersangka mendapatkan fee 200 ringgit dan 50 dolar Singapura.
Tersangka OAI berkenalan dengan pengirim barang ketika sedang berada di diskotik atau tempat hiburan malam di daerah Jakarta. Dari situlah, tersangka lantas dijadikan kurir untuk mengantarkan barang haram tersebut. (fth/aro/ce1)