Jalan Desa Kumejing Dianggarkan Rp 1, 5 M

381

WONOSOBO – Pembangunan jalan Desa Kumejing, Kecamatan Wadaslintang, sebagai salah satu desa terpencil di wilayah selatan Wonosobo, tahun ini akan dilanjutkan. Dana untuk pembangunan jalan dianggarkan dari Provinsi Jawa Tengah senilai Rp 1,5 miliar..
“Pembangunan secara bertahap, tahun lalu sudah, tahun ini akan dilanjutkan anggaran sekitar Rp 1,5 miliar,” kata Bupati Wonosobo Kholiq Arif, kemarin (16/5) kepada Radar Semarang.
Kholiq mengatakan, Desa Kumejing diakui memang berada di pinggiran. Selain Kumejing, yang berada di tepian Waduk Wadaslintang dengan akses jalan cukup sulit yakni Desa Lancar, Kaligowong dan Plunjaran. Untuk ketiga desa itu, pada lima tahun terakhir sudah dibangun dengan aspal. Sedangkan Kumejing ditargetkan 2015 sudah jalan darat sudah mulus.
“Kami juga sudah membangun sekolah SMK di seputar desa-desa itu, untuk memudahkan keterjangkauan pendidikan,” tandasnya.
Menurut Kepala Desa Kumejing Suratno, 34, desanya terdiri dari empat dusun, meliputi Dusun Brondong, Kedung Bulu, Piringan dan Rejosari. Jarak antardusun rata-rata antara 2 hingga 4 kilometer. Bahkan untuk Dusun Rejosari terpisah oleh Waduk Wadaslintang.
“Kalau ada acara desa, warga Rejosari harus naik perahu. Karena jalan darat susah dan jauh,”kata kades yang menjabat sejak tahun 2009 ini.
Seperti dikupas Jawa Pos Radar Semarang beberapa waktu lalu, Desa Kumejing masuk kategori desa terisolasi. Karena akses menuju desa lain dan ibu kecamatan sangat sulit. Hanya bisa dilewati oleh jalur air dan darat.  Bila menempuh jalur air, harus menggunakan perahu menyeberang waduk. Saat menggunakan jalur darat kondisi jalan sangat buruk.
“Jalan yang masuk desa berupa beton sekitar 2 kilometer, baru dibangun antara tahun 2012-2013, sumber dananya dari Provinsi Jateng sekitar Rp 1 miliar,”kata Suratno.
Suratno mengatakan, sebagian besar penduduk Kumejing yang jumlahnya 3030 jiwa, bekerja sebagai petani gurem. Karena lahan yang digarap kecil. Selain itu, jenis hasil bumi hanya ketela, jagung, kelapa, durian dan kayu. Susahnya akses transportasi dan ekonomi, membuat sedikitnya 1000 warganya memilih bekerja di luar daerah.
“Warga kami banyak yang merantau, karena hasil panen di sini murah. Tengkulak membeli hasil pertanian sangat murah dengan alasan transportasi,”katanya.
Di sisi lain, kata Suratno, kebutuhan sembako kebutuhan warga cukup tinggi. Warga harus berbelanja ke pasar kecamatan, atau ke Kabupaten Kebumen karena jaraknya lebih dekat dibanding ke Wonosobo, hanya butuh satu jam perjalanan.
“Karena masalah ini, sekitar seribu orang warga kami bekerja di luar daerah. Ada yang di Jakarta, Kalimantan, Semarang dan kota lain,”katanya. (ali/lis)