Dokter Boyke: Pedofil seperti Vampire

301

KENDAL — Pelaku pedofil selain harus dihukum, juga harus diterapi untuk disembuhkan. Sehingga tidak lagi menimbulkan korban anak-anak lebih banyak.
Seksolog dr Boyke Dian Nugraha, SpOG MARS menuturkan, selain pelaku, anak-anak yang menjadi korban pelaku pedofil, juga harus diterapi. Sebab, pedofil adalah mata rantai yang bisa menjangkiti korban untuk berperilaku pedofil.
”Pedofil itu seperti vampire (drakula, Red). Jadi, sekali dia memakan korban, maka korbannya— jika tidak diterapi— akan menjadi pelaku pedofil. Bahkan bisa (menjadi pedofil) lebih ganas dan berbahaya hal yang pernah dia alami,” kata Boyke, di sela seminar nasional yang dihelat oleh Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Kendal dengan PT Kimia Farma di pendopo kantor bupati Kendal, kemarin.
Menurut Boyke, penyebab pedofil atau kelainan seks pada orang dewasa yang berhasrat pada anak-anak, 70 persen karena pernah mengalami atau menjadi korban pedofil.
Sedangkan 30 persen sisanya, karena pengaruh lingkungan keluarga. Juga pengaruh lingkungan tempat tinggal. ”Maka dari itu, korban harus diterapi dan psikoterapi, baik fisik maupun psikis sehingga tidak menjadi pelaku pedofilia.”
Menurut pria kelahiran Bandung, 14 Desember 1956 itu, penting sekali mengajarkan pendidikan seks sejak dini kepada anak. Sehingga anak bisa terhindar dari bahaya dan perilaku seks menyimpang.
Ia memiliki tips ’PANTS’ dalam mengajarkan atau memperkenalkan anak pada pendidikan seks. P pertama adalah private is private. Yakni, anak-anak harus diajarkan bahwa segala hal terkait bagian tubuh yang tertutup, adalah privasi yang tak boleh disentuh oleh siapa pun.
Kedua, A atau kepanjangan dari always remember that your body is belong to you. Anak memiliki hak atas tubuhnya sendiri. Jadi, pesan dr Boyke, jangan sekali-kali para orang tua memaksakan kehendak pada anak.
”Misal, anak tidak mau dicium, jangan dipaksa. Berikan kesempatan anak untuk memilih, siapa kapan dia ingin dicium atau tidak. Jadi, jangan karena gemas, kemudian si anak tidak ingin dicium, tapi orang tua tetap memaksa untuk mencium si anak,” tuturnya.
Ketiga, N yang berarti no means no. Boyke mengingatkan orang tua agar menghargai pendapat anak. Ketika si anak bilang tidak, maka orang tua jangan memaksa anak untuk sependapat. Pun, sebaliknya. Orang tua perlu tegas dalam hal larangan.
Keempat, T yakni talk if you feel let down. Orang tua harus melatih anak agar bisa bercerita tentang masalah apa pun yang dihadapi si anak. Baik itu dikecewakan oleh sikap sang ayah atau ibu, atau orang dewasa lainnya. Sehingga orang tua bisa memantau perkembangan anak.
Terakhir, S, yang berarti speak up atau berbicara. Artinya, jika sang anak diam, maka orang tua yang harus bisa mengajak bicara anaknya. ”Jadi pendidikan seks ini penting. Karena orang tua harus melihat kenyataan jika pelaku seks anak atau pedofil tidak lain adalah orang-orang terdekat dengan anak, bukan siapa-siapa.” (bud/isk/ce1)