Pembelajaran Biologi dengan Mengimplementasikan Kecerdasan Musikal

572

Oleh: Muslikah SPd MPd
Guru Biologi SMA Negeri 2 Demak

Suparlan (2008) mengatakan bahwa belajar merupakan proses aktif yang dilakukan oleh peserta didik dalam rangka membangun pengetahuannya. Jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berperan aktif maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif peserta didik dalam proses pembelajaran sangat diperlukan karena ia merupakan subjek utama dalam proses pembelajaran.
Dalam rangka mencapai hasil belajar yang maksimal maka diperlukan suatu konsep pembelajaran yang memadai dan relevan. Oleh karena itu, pendidik dituntut dapat memilih metode pembelajaran yang dapat memacu semangat setiap peserta didik untuk secara aktif ikut terlibat dalam proses pembelajaran. Setiap peserta didik memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Seorang guru perlu memahami berbagai jenis kecerdasan peserta didik, agar dapat menerapkan strategi pembelajaran yang bervariasi dalam menjembatani proses belajar peserta didik.
Kecerdasan yang dimiliki setiap individu ada delapan yaitu: kecerdasan linguistik, logika-matematik, spasial, kinestetik, musikal, interpersonal, intrapersonal dan naturalis. Kecerdasan tersebut merupakan modalitas untuk melejitkan kemampuan setiap siswa dan menjadikan mereka sebagai sang juara. Praktiknya, pendidik kadang tidak menyediakan proses dan menu pembelajaran yang berbeda-beda saat mengajar karena pendidik memiliki anggapan yang salah bahwa setiap anak memiliki pola belajar mengajar yang sama . Oleh karenanya anak-anak tidak bisa maju secara bersama, mereka yang memiliki kecerdasan logika bahasa dan matematika yang lumayan baiklah yang lebih maju di banding teman-temannya. Pendidikan lebih pada pengembangan kecerdasan pikir yang diukur dengan IQ saja.

Kecerdasan Musikal

Plato mengatakan bahwa kecerdasan musikal merupakan suatu alat yang potensial karena harmoni dapat merasuk ke dalam jiwa seseorang melalui tempat-tempat yang tersembunyi di dalam jiwa. Banyak pakar berpendapat bahwa kecerdasan musikal merupakan kecerdasan pertama yang harus dikembangkan dilihat dari sudut pandang biologi (saraf) kekuatan musik, suara dan irama dapat menggeser pikiran, memberi ilham, meningkatkan ketakwaan, meningkatkan kebanggan nasional dan mengungkapkan kasih sayang untuk orang lain.
Kecerdasan musikal dapat memberi nilai positif bagi siswa karena: (a) meningkatkan daya kemampuan mengingat; (b) meningkatkan prestasi/kecerdasan; (c) meningkatkan kreativitas dan imajinasi. Meier mengatakan bahwa untuk membuat siswa lebih tertarik dan aktif sehingga meningkatkan hasil belajar, pembelajaran dapat dilakukan dengan mengimplementasikan kecerdasan musikal. Penerapan kecerdasan musikal dalam pembelajaran antara lain dilakukan dengan menggunakan musik sebagai musik latar, membuat inti materi dalam sebuah lagu dan mengaitkan materi pelajaran dengan musik.
Agar proses belajar bisa berjalan dengan baik harus ada keseimbangan antara otak kanan dan otak kiri, apa lagi untuk materi-materi yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Menurut Yuniarni (2013) lagu dapat menyeimbangkan fungsi otak kanan dan otak kiri. Ini berarti menyeimbangkan aspek intelektual dan emosional. Ada teori yang menyatakan bahwa dalam situasi otak kiri sedang bekerja, seperti memperhatikan materi-materi baru lagu akan membangkitkan reaksi otak kanan yang intuitif dan kreatif, otak kanan yang cenderung terganggu dalam proses belajar mengajar merupakan penyebab mengapa kita kadang-kadang melamun dan memperhatikan pemandangan ketika kita berniat konsentrasi, sehingga proses belajar mengajar jadi terhalang.
Bila selama ini proses belajar mengajar hanya memfokuskan pada fungsi otak kiri yang bersifat logis dan matematis sehingga penggunaan otak kanan yang bersifat kreatif serta sangat berhubungan dengan irama, rima, musik, gambar dan imajinasi terabaikan. Penggunaan otak yang tidak seimbang ini akan menimbulkan kelelahan, kejenuhan, kurang pede dan kurang mampu mengendalikan emosi, hal ini sangat sering terjadi kepada pembelajar. Lagu baik digunakan dalam proses belajar mengajar (Claudia,2010), alasannya karena lagu merupakan salah satu makanan penting dari otak kanan kita. Sejumlah penelitian membuktikan bahwa lagu dapat memberikan banyak manfaat dalam proses belajar mengajar seperti merangsang pikiran, memperbaiki konsentrasi dan ingatan, membangun kecerdasan emosional, dengan menggunakan lagu, pembelajar bisa lebih membangkitkan motivasi untuk belajar. Hal ini membuat pembelajar bisa lebih bergairah mengikuti pembelajaran dan tetap dalam keadaan nyaman. Sehingga pembelajar bisa mengerahkan semua pikirannya untuk belajar.
Telah diteliti di 17 negara terhadap kemampuan anak didik usia 14 tahun dalan bidang sains. Dalam penelitian itu ditemukan bahwa anak dari negeri Belanda, Hongaria, dan Jepang memiliki prestasi tertinggi di dunia. Saat di teliti lebih mendalam ternyata ketiga negara ini memasukkan unsur musik kedalam kurikulum mereka . Jadi, dengan memasukkan unsur musik dalam proses belajar mengajar akan meningkatkan kemampuan belajar seseorang dalam bidang sains dan juga dalam bidang bahasa sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Lozanov. Selain itu musik juga sangat bermanfaat untuk menciptakan suasana rileks namun waspada dalam proses belajar mengajar. Pembelajar tidak memiliki perasaan tertekan dalam dirinya, sehingga mereka belajar dengan hati tenang dan senang. Namun, bukan berarti mereka terlena dengan iringan musik, tetapi tetap mengikuti pembelajaran dengan baik.
Muhimatul (2011) mengatakan bahwa musik juga dapat membangkitkan semangat. Terkadang dalam proses belajar mengajar timbul perasaan jenuh pada diri pembelajar, maka dengan mendengarkan musik yang cocok bisa membangkitkan semangat. Hal ini dapat menimbulkan kembali semangat pembelajar yang telah hilang. Musik juga dapat merangsang kreativitas. Otak kanan menjadi lebih kreatif dan inovatif dengan rangsangan yang diberikan oleh musik. Sehingga pembelajar bisa lebih mengembangkan kreativitasnya dalam belajar tanpa adanya perasaan pesimistis ataupun kurang percaya diri dengan ide-idenya.
Suatu studi menunjukkan bahwa sekelompok siswa yang kepadanya diperdengarkan musik selama delapan bulan mengalami peningkatan dalam IQ spasial sebesar 46 persen sementara kelompok kontrol yang tidak diperdengarkan musik hanya meningkat 6 persen. Mungkin sering kita melihat ada siswa atau orang yang lebih suka belajar bila ada musik yang diperdengarkan (gaya belajar auditori). Pada orang ini informasi akan lebih mudah tersimpan di dalam memorinya, karena mereka mampu mengasosiasikan irama musik dengan informasi pengetahuan yang mereka baca meskipun kadang-kadang mereka tidak menyadarinya.
Berdasarkan hasil pengamatan, belum banyak guru biologi yang menerapkan kecerdasan musikal dalam proses pembelajaran, padahal menurut Frances Rauscher hanya dengan mendengarkan musik Mozart selama 10 menit dapat meningkatkan nilai IQ sebesar 8-9 poin. Berpedoman pada hal tersebut maka kemudian penulis melakukan proses pembelajaran dengan mengimplementasikan kecerdasan musikal. Adapun yang penulis lakukan adalah memberi tugas pada para peserta didik membuat inti materi pelajaran ke dalam bentuk sebuah lagu dan kemudian menyanyikannya di depan kelas.
Pembelajaran dengan mengimplementasikan kecerdasan musikal merupakan pembelajaran yang menyenangkan. Hasil pembelajaran dengan mengimplementasikan kecerdasan musikal yang penulis lakukan terbukti dapat meningkatkan kualitas pembelajaran baik dari segi hasil maupun dari segi proses. Pembelajaran yang mengimplementasikan kecerdasan musikal dapat membuat siswa lebih tertarik dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Kiranya apa yang penulis lakukan dapat dijadikan pertimbangan bagi rekan-rekan guru yang ingin mengaktifkan peserta didik dalam proses pembelajaran. (*/ton)