Belum Semua SDM Bersertifikasi

280

SEMARANG – Sumber daya manusia di Jawa Tengah belum sepenuhnya bersertifikasi kompetensi profesi. Padahal, standardisasi tersebut diperlukan guna bersaing pada pasar global mendatang.
Ketua Badan Koordinasi Sertifikasi Profesi (BKSP) Jateng Hertoto Basuki mengatakan dari 110 juta sumber daya manusia (SDM) di Indonesia, baru sekitar 2,5 juta saja yang telah bersertifikasi. Sedangkan di Jawa Tengah baru mencapai sekitar 15 ribu.
”Untuk skala nasional angkanya masih jauh. Sedangkan di Jateng sudah terbilang cukup banyak. Tapi masih terus ditingkatkan,” ujarnya di sela Seminar ’Empowering HRD dalam Sistem Sertifikasi Profesi Industri di Jateng’, kemarin (20/5).
Menurutnya, sertifikasi kompetensi profesi baik berdasarkan standar Indonesia maupun adopsi dari standar internasional sangat diperlukan, terlebih menyongsong pasar global. Masih belum terpenuhinya sertifikasi kompetensi tersebut, dikhawatirkan menjadikan rakyat sebatas kuli di negeri sendiri.
”Ke depan, ijazah hanya sebatas pelengkap, yang diutamkan sertifikat kompetensi profesinya. Terutama untuk tenaga-tenaga ahli,” ujarnya.
Ia mencontohkan, bahwa saat ini sudah ada sekitar 1.800 akuntan asing yang magang di Indonesia. Pada akhir tahun 2015 mereka bukan lagi berstatus magang, tapi sudah resmi menjadi tenaga kerja yang berhak bekerja di Indonesia. ”Walaupun sama-sama sarjana, tapi tidak bersertifikat, gaji kita seperlima mereka,” ujarnya.
Itu, ucapnya, baru dari satu sektor, padahal kita memiliki cukup banyak sektor. Secara nasional kita memiliki setidaknya 172 sektor yang perlu distandardisasi. Sedangkan subsektornya bisa mencapai hingga 300.
”Bila tidak segera dikejar, dikhawatirkan 5-6 tahun mendatang akan banyak orang asing yang menduduki jabatan di UKM kita. Karena kita akan kekurangan 50 persen tenaga ahli yang dibutuhkan untuk UKM dan industri besar,” ungkapnya.(dna/ida/ce1)