Pengusaha Kayu Divonis 16 Bulan

297

MUNGKID– Kasus dugaan korupsi pembangunan jembatan Desa Rejosari, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang yang bersumber dari dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) 2010 lalu sudah memasuki tahap akhir. Terdakwa HM Irfan, 60, pengusaha kayu divonis 16 bulan penjara oleh Pengadilan Tipikor Semarang.       
Majelis hakim juga menghukum terpidana untuk membayar uang pengganti Rp 51.512.953 dalam tempo satu bulan setelah putusan memiliki kekuatan hukum tetap, atau subsider enam bulan kurungan. Barang bukti truk AA 1525 JB dan gergaji mesin dikembalikan pada terpidana.       
“Terdakwa terbukti bersalah melakukan perbuatan yang melanggar pasal 3 jo pasal 18 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi,” kata hakim ketua Suyadi, dalam amar putusan yang diterima Kejari Mungkid, kemarin.
Pertimbangan meringankan dalam kasus ini, terdakwa dinilai sudah tua, belum pernah dihukum, sopan dan koperatif, merupakan tulang punggung keluarga dengan tanggungan seorang isteri, 11 anak dan 12 cucu.
Menanggapi putusan enam bulan lebih ringan dari tuntutan, jaksa penuntut umum (JPU) Edius Manan menyatakan pikir-pikir. Demikian halnya HM Irfan bersama penasehat hukumnya, Agus Budiyanto. Agus mengaku keberatan atas putusan itu karena majelis hakim kurang memperhatikan beberapa hal yang dia sampaikan dalam nota pembelaan.
“Klien saya hanya pedagang yang menjual kayu pada panitia pembangunan jembatan sesuai harga yang berlaku di pasaran. Tidak ada niat jelek untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan cara melawan hukum,” katanya, kemarin, sepulang dari mengikuti sidang.       
Untuk diketahui kasus ini bermula saat Desa Rejosari menerima kucuran dana PNPM Mandiri Pedesaan Rp 96 juta. Dana sebesar itu dipakai untuk membuat jembatan penghubung dengan Desa Sidorejo. Ditambah dana swadaya masyarakat Rp 11,5 juta, total biaya dana pembangunan jembatan mencapai Rp 107 juta.
Bersama terdakwa lain dalam perkara ini, Mardiyono, 53, mantan Kades Rejosari (telah lebih dulu divonis 24 bulan), Irfan memasok yang tidak sesuai spesifikasi. Yakni, kayu jati berukuran 0,08 m x 0,02 m x 3,3 m dengan kualitas standar Perhutani dan spesifikasi galih tidak kowal, tidak pelos dan tanpa mata.       
Irfan menawarkan harga Rp 1.525.000 per batang. Atas perintah terpidana Mardiyono, pihak panitia pembangunan tidak berani menolak tawaran itu. Dia memasok kayu jati kualitas 2-4 dengan kisaran harga Rp 600.000 sampai Rp 700.000 per batang. Jumlah kayu yang disediakan ternyata kurang dari rencana 60 batang. (vie/lis)