Terinspirasi dari Guru, Pilih Aliran Realis

452

Kholison, Anggota DPRD Kota Semarang yang Tekuni Seni Lukis

Anggota DPRD Kota Semarang, Kholison, berencana kembali menekuni dunia seni lukis setelah tak lagi menjabat wakil rakyat. Kebetulan dalam pemilihan legislatif (pileg) 9 April lalu, Kholison gagal kembali duduk di gedung dewan.

M. RIZAL KURNIAWAN

SAAT ini, Kholison masih tercatat sebagai anggota DPRD Kota Semarang dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) periode 2009-2014. Perolehan suaranya yang mencapai 4.000-an ternyata belum cukup untuk mengantarkannya kembali menjadi wakil rakyat lima tahun yang akan datang. Namun Kholison tak mengambil pusing hasil pileg tersebut. Saat ini, yang dia pikirkan bagaimana cara mengembangkan diri untuk meraih kesuksesan di luar dunia politik.
Salah satu yang akan menjadi fokus kegiatan pria kelahiran Semarang 1975 ini pasca menuntaskan jabatannya sebagai wakil rakyat adalah menjadi pelukis yang lebih profesional. Ya, sebelum menjadi anggota dewan, Kholison memang lebih sering mengisi kesibukan dengan melukis di atas kain kanvas menggunakan cat air.
Kholison sendiri mulai mencintai seni lukis sejak duduk di bangku SMA. Saat itu, dia masih sekadar melukis kaligrafi. Dia terinspirasi oleh gurunya Zen Muntohar saat di Pondok Pesantren Rohmaniah, Mranggen, Demak.
”Saya hanya terinspirasi guru saya waktu itu. Karena sering melihat guru saya melukis kaligrafi, saya mencoba mengisi kejenuhan dengan mencoba membuat kaligrafi secara otodidak,” kata pria yang berulang tahun setiap tanggal 6 Juni ini.
Hasil lukisannya pun sering diminta oleh rekan-rekannya. Beberapa di antaranya juga disimpan dan dipajang di rumah. Saat itu, Kholison memang tidak bermaksud menjual hasil karyanya, karena orientasinya memang bukan profit. Ketika rekannya memesan lukisan kaligrafi, dia tidak mematok harga, cukup mengganti atau menyediakan kain kanvas dan cat air saja.
”Setelah beberapa tahun melukis kaligrafi, ternyata ada kebosanan juga karena terlalu monoton. Sekitar tahun 2000, saya mulai mencoba beralih ke aliran realis. Saya tertarik dengan aliran realis karena ingin mengungkapkan sebuah kesenjangan sosial di lingkungan sekitar. Dan realis lah yang lebih pas,” ujar suami Umi Sumiyatun ini.
Cara mendapatkan ilmu aliran realis memang cukup unik. Kholison tidak belajar secara khusus dengan seorang seniman lukis di aliran itu, tapi hanya melihat seorang seniman jalanan, yang saat itu menggelar hasil karyanya di sebuah jalan protokol.
”Awalnya belajar realis, saya melihat pelukis kaki lima yang saat itu melukis dan menjual karyanya di depan sebuah tempat perbelanjaan. Saya lihat dia melukis, kemudian sampai di rumah saya praktikkan. Pertama kali yang saya lukis adalah wajah bapak saya sendiri. Setelah jadi, saya minta istri yang menilai, katanya hasilnya memang persis dengan objek aslinya. Dari situ saya mulai PD (percaya diri) menekuni aliran realis,” kata ayah empat anak ini.
Selain belajar mengamati cara melukis dari seniman jalanan, Kholison juga belajar dari tokoh pelukis Semarang yang memang cukup kondang di dunia lukis realis. Sama seperti saat belajar dari pelukis jalanan, Kholison mendatangi rumah seniman itu kemudian melihat cara melukis sang seniman hingga selesai dan sampai di rumah dipraktikkan.
”Seperti itu saya belajar melukis. Hanya mengamati orang yang sedang melukis, kemudian mempraktikkannya. Jadi, tidak ada pelajaran atau kursus secara khusus,” ujar anggota Komisi B DPRD Kota Semarang ini.
Merasa hasil karyanya dihargai setidaknya oleh istri dan rekan-rekannya sendiri, Kholison pun mulai melukis fenomena kesenjangan sosial di lingkungan sekitar. Mulai sosok orang tua yang mengangkat barang berat, yang sedang duduk termenung sambil mengisap sebatang rokok, kuli panggul, hingga menggambar tokoh ternama Gus Dur.
”Saya memang lebih senang melukis fenomena sosial. Kadang saya jalan-jalan ke pasar dan menemukan kegiatan human interest, kemudian saya potret. Hasilnya, saya cetak lalu dilukis,” kata warga Jalan Syuhada Timur Raya RT 01 RW 11 Tlogosari, Pedurungan ini.
Diakui, banyak teman-temannya yang datang ke rumah tertarik membeli lukisannya. Ada yang mau membayar Rp 5 juta, bahkan ada yang ingin dibuatkan lukisan dengan memberi harga tertentu.
”Tapi saya tetap tidak mematok harga, karena orientasi saya memang bukan untuk penghasilan saat itu. Hanya ingin meluapkan sebuah perasaan dan mengekspresikan sebuah kesenjangan sosial di lingkungan sekitar,” terang pria yang hobi sepak bola dan trabas dengan motor trail ini.
Sekitar 2003, Kholison mulai berani mengikuti pameran secara terbuka di sebuah hotel. Ia berbekal koleksi-koleksinya yang memang sudah diakui oleh rekan-rekannya. Sambutan para pengunjung saat itu cukup membuat Kholison termotivasi untuk mengembangkan bakat seni lukisnya. Namun pada 2004, dia terpilih menjadi anggota dewan. Sejak saat itu dia mulai mengurangi aktivitasnya melukis. Karena memang disibukkan dengan tugas-tugas sebagai wakil rakyat. ”Sejak menjadi dewan saya sudah jarang melukis. Bahkan lima tahun terakhir ini saya hanya menyelesaikan 6 lukisan saja,” katanya.
Menurut Kholison, butuh waktu dan mood untuk membuat sebuah lukisan. Pernah dia menyelesaikan lukisan relief berukuran 2 meter kali 1,20 meter dalam waktu enam bulan. ”Sekarang saya lebih suka melukis relief. Tingkat kesulitannya memang lebih tinggi dibanding menggambar orang atau pemandangan. Saya pernah membuat lukisan relief, enam bulan baru selesai. Karena memang butuh mood. Kalau sedang tidak mood, biasanya saya mencari inspirasi di luar, seperti sepak bola, trabas dan jalan-jalan di pasar. Dari situ saya bisa kembali mendapatkan mood untuk menyelesaikan sebuah lukisan,” ujarnya.
Kholison pun berencana akan kembali fokus menekuni seni lukis setelah masa jabatannya sebagai anggota dewan selesai. ”Setelah ini, saya ingin mengembangkan bakat dan ilmu lukis. Dan mungkin sekarang akan lebih profesional,” tandasnya. (*/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.