Dewan Siap Fasilitasi Rekayasa Lalin

340

Diskusi Interaktif DPRD Kota Semarang

SEMARANG – Pesoalan kemacetan di Kota Semarang sudah masuk kategori parah. Pada jam-jam sibuk, sejumlah kawasan dilanda kemacetan. Selain itu pada akhir pekan, di beberapa titik juga terjadi kemacetan. Tingginya jumlah kendaraan serta kurangnya sarana jalan menjadi penyebab utama kemacetan tersebut.
Untuk itu, DPRD Kota Semarang siap memfasilitasi upaya pemkot dalam mengatasi persoalan lalu lintas tersebut. Demikian ditegaskan Wakil Ketua DPRD Kota Semarang HA Supriyadi di sela-sela diskusi interaktif DPRD Kota Semarang kemarin.
Menurut Supriyadi, ada beberapa langkah rekayasa lalu lintas yang berhasil mengatasi kemacetan. ”Seperti rekayasa lalu lintas di Jalan Indraprasta sudah berhasil mengurai kemacetan di kawasan tersebut, termasuk di dekat Hotel Siliwangi yang sempat menjadi titik macet,” ujar Supriyadi pada diskusi yang dilaksanakan oleh Sekretariat DPRD Kota ini.
Selain mendukung rekayasa lalu lintas guna mengurangi macet, pihaknya juga siap mendukung peningkatan sarana dan prasarana jalan.
Demikian juga untuk bus rapid transit (BRT), DPRD Kota Semarang siap memberi dukungan agar armada bus bisa ditambah, sehingga pelayanan pada masyarakat semakin baik. ”Dengan adanya armada bus yang lebih baik, maka masyarakat bisa beralih menggunakan BRT,” tegasnya.
Supriyadi juga mengharapkan agar pemkot lebih tegas dalam mengatur parkir di tengah kota. ”Kalau perlu pada jam-jam tertentu, tarif parkirnya lebih mahal. Penataan parkir juga agar lebih tegas, sehingga parkir tidak menjadi salah satu penyebab macet seperti saat ini,” katanya.
Sementara itu, Kasatlantas Polrestabes Semarang AKBP Windro Akbar Panggabean pada kesempatan yang sama menambahkan, saat ini ada empat lokasi yang menjadi fokus perhatian kepolisian. Yakni, kawasan Jatingaleh, Kalibanteng, Majapahit dan Kaligawe. Keempat lokasi tersebut terkenal sebagai titik macet di Kota Semarang. ”Banyak penyebab timbulnya kemacetan lalu lintas. Di antaranya, minimnya sarana dan prasarana jalan dan tingginya pertumbuhan kendaraan di Kota Semarang,” ujar Windro Akbar. (HMS)