Gelar Ritual Tradisi hingga Pementasan Jazz

305

Melihat Kemeriahan Pesta Seni Rhytm of Temanggung di Kledung

Bertajuk Rhytm of Temanggung, pentas seni digelar estafet dari pagi hingga tengah malam pada Sabtu (24/5) kemarin. Diawali dari tradisi ritual keagamaan, pergelaran seni tradisional dan dipungkasi dengan pesta musik kontemporer tersaji di Rest Area Kledung. Seperti apa kemeriahannya?

ABAZ ZAHROTIEN, Temanggung

Sepenggal matahari menanjak dari batas cakrawala, ribuan orang telah berkumpul di Desa Kledung, Kecamatan Kledung. Sebagian tengah mempersiapkan diri dengan pakaian tradisional, sebagian lainnya sibuk menata peralatan. Dan pada sisi lainnya, pengunjung sepertinya tidak sabar menyaksikan apa yang akan ditampilkan. Pada bagian lainnya, ratusan fotografer juga memburu bingkaian gambar pada suasana tersebut.
Di Lapangan Desa Kledung itu, desa yang terletak pada titik tertinggi di antara lereng Gunung Sindoro pada bagian utara dan Gunung Sumbing pada sebelah selatan, titik awal berkumpul. Perwakilan kelompok seni dari 20 kecamatan yang ada di daerah penghasil tembakau ini bersiap memulai kirab agung yang didahului dengan tradisi umbul dungo (memanjatkan doa bersama).
Usai umbul dungo, satu per satu perwakilan dari kecamatan mulai berjajar rapi dengan masing-masing kecamatan memiliki ‘pasukan penuh’ yang terdiri atas kelompok seni, tumpeng rombyong (hasil bumi), berikut pasukan bergodho yang dipimpin oleh camat masing-masing. Arak-arakanpun dilakukan dari lapangan menuju titik pusat Kledung Rest Area yang berjarak sekitar satu kilometer. Yang paling menarik dari barisan itu, selain 20 tumpeng mewakili kecamatan masing-masing, satu tumpeng raksasa menjadi penyempurna barisan dengan bentuknya yang tinggi besar berisi seluruh hasil bumi yang ada di Temanggung.
Tiba di lokasi utama, seluruh peserta dan pengunjung kemudian mengambil tempat memulai kegiatan. Seremoni selesai, masing-masing kesenian tampil menunjukkan kebolehannya dalam memainkan kesenian khas masing-masing kecamatan. Di antara kesenian yang ditampilkan antara lain Topeng Ireng, Dayakan, Kubro Siswo, Bangilun, Kuda Lumping serta berbagai kesenian khas lainnya, lengkap dengan iringan musik yang penuh ritme etnis.
Hingga tengah hari, estafet penampilan kesenian terus berlanjut. Bupati Temanggung, Bambang Sukarno, Wakil Bupati Irawan Prasetyadi, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD), pejabat daerah dan masyarakat tampak begitu antusias menyaksikan rangkaian acara tersebut. Bahkan, Bupati Bambang Sukarno didapuk menaiki reog besar yang digotong penarinya. Semua itu berjalan iringan tepuk tangan yang meriah dan mengindahkan sengatan panas matahari siang itu.
Band-band asal Temanggung memulai gelaran musik usai tampilan seni tradisi. Lagu-lagu yang ditampilkan tidak kalah hebat dengan band ternama. Kombinasi beberapa alat musik yang ada menggiring para penonton untuk turut serta menari mengikuti irama yang dimainkan. Sambung menyambung antarband hingga petang memberikan suasana hangat di tengah sore yang mulai dingin di desa tertinggi di Kabupaten Temanggung ini.
Malam beranjak, sajian blues dan jazz dari artis kota besar mulai memberikan warna lain. Penggila jazz dan blues tampak enggan bergeser dari tempatnya di tengah menikmati lagu-lagu yang ditampilkan. Penampilan sempurna membawa suasana hangat dan semarak di kawasan tempat peristirahatan yang berada di perbatasan Kabupaten Wonosobo ini.
Tampilan bluese dan jazz lebih semarak manakala Wakil Bupati Temanggung, Irawan Prasetyadi, bersama grupnya membawakan lagu-lagu jazzy dengan saksofon. Irawan juga menyanyikan sejumlah lagu untuk menghibur para penonton. Kemeriahan yang terus hidup tersebut berlangsung hingga pukul 22.00.
Dangdut menjadi pamungkas penampilan. Dua biduan cantik ini mampu menggiring para penonton mencapai puncak kemeriahan. Lagu-lagu yang sedang tenar bernuansa dangdut membuat penonton tidak kuasa untuk menahan hasrat menggoyangkan badan mengikuti tabuhan kendang dan mendayu-dayunya vokal biduan.
“Ini memang kita sajikan khusus dengan mengakomodasi semua kesenian yang ada di Temanggung. Tidak hanya satu atau dua kesenian, tetapi seluruhnya. Sebagai kegiatan pertama ini cukup sukses dan pada penyelenggaraan selanjutnya kami yakin akan lebih meriah,” kata ketua panitia kegiatan, Albertus.
Albertus yang juga musisi jazz ini menambahkan, pada penampilan tahun depan berjanji akan menghadirkan musisi nasional untuk memeriahkan acara. Sejumlah relasinya akan ditarik ke daerah dingin ini untuk memberikan kemeriahan dalam berkesenian. “Persiapannya akan lebih matang lagi. Ini semua mepet waktunya jadi kalau tidak sempurna wajar. Tetapi melihat dari pagi ini sudah luar biasa,” tandasnya. (*/lis)