Warga Lereng Sumbing Bentrok

508

Tawuran, Satu Rumah Rusak


TEMANGGUNG—Satu rumah rusak dan puluhan orang ditahan aparat Polres Temanggung, setelah terlibat tawuran warga di Desa Banaran, Kecamatan Bansari, Minggu (25/4) petang kemarin.
Tak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Yang pasti, dampak tawuran yang pelakunya membawa aneka senjata tajam, membuat suasana desa di lereng Gunung Sumbing mencekam.
Aksi tawuran terjadi antara warga Desa Banaran, Kecamatan Bansari, dengan warga Desa Kalikuto, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo. Bermula dari perkelahian biasa, saat menonton pertunjukan kuda lumping, akhirnya meluas hingga perkelahian masal.
“Jadi, awalnya karena perkelahian biasa saat menonton kuda lumping,” kata Kepala Desa Banaran, Wuryanto.

Ia membeber, kejadian bermula pada Sabtu (24/5) malam. Malam itu, saat pertunjukan kuda lumping di Desa Kentengsari, Kecamatan Bansari, warga Desa Kalikuto dengan warga Desa Banaran terlibat perkelahian kecil.
Lantaran tidak terima, warga Desa Kalikuto akhirnya datang kembali pada Minggu (25/5) siang kemarin. Mereka menumpang tiga mobil dan sejumlah motor untuk balas dendam.

Rumah milik Panggung Santoso, menjadi korban amukan massa warga Kalikuto. Akibatnya, rumah Santoso mengalami kerusakan cukup parah.
Tidak terima, warga Desa Banaran akhirnya mengumumkan melalui pengeras suara masjid telah terjadi tindak perusakan dan warga. Dampaknya luar biasa. Ratusan warga, baik dewasa dan remaja, keluar rumah. Mereka mengepung warga Kalikuto yang berada di tengah-tengah perkampungan warga.

Imbasnya, amarah warga untuk balas dendam tidak terbendung lagi. Warga melengkapi diri, dengan berbagai senjata tajam dan balok-balok kayu. Mereka bersiap melakukan aksi balasan.
Aparat dari kepolisian dan TNI yang mengetahui peristiwa itu, langsung bersiaga untuk mencegah aksi lanjutan. “Sebenarnya, ini hanya kesalahpahaman, yang berimbas meluas, dan melibatkan warga desa lain,” ucap Wuryanto.

Warga Desa Kalikuto yang telah terkepung di tengah perkampungan, akhirnya diamankan di rumah kepala desa setempat. Pengamanan dilakukan untuk menghindari amuk massa warga Banaran. Polisi dan TNI yang bersiaga di lokasi, langsung mengisolasi rumah kepala desa.
“Kami mencoba melakukan negosiasi,” terangnya.
Warga Banaran, menuntut tersangka mengganti rugi kerusakan rumah, senilai Rp 25 Juta, sesuai kesepakatan kedua belah pihak yang diwakili masing-masing kepala desa.
“Dalam perjanjian, Kepala Desa Candimulyo, Candiroto, Kalikutho, Kertek, Wonosobo bersedia mengganti kerugian, paling lambat tanggal 30 Mei mendatang. Ini juga sebagai langkah meredam amarah warga,” lanjutnya.

Sementara itu, pihak kepolisian menahan sedikitnya 22 warga Kalikutho yang turut serta dalam rombongan pengrusakan. Warga meminta mereka diproses hukum sesuai tindak kriminal pengrusakan tersebut.
Kini, kendaraan– berupa empat unit motor tersangka— disita oleh warga Banaran dan dititipkan di rumah kepala desa.

“Kami berharap warga tidak melakukan tindak anarkis balasan karena kami akan memproses tersangka sesuai dengan hukum yang berlaku. Jangan pula mudah terpancing emosi saat terjadi aksi-aksi lanjutan yang hanya akan memperkeruh suasana,” terang Kapolres Temanggung, AKBP Dwi Indra Maulana melalui Kapolsek Parakan, AKP Roeslan. (zah/lis)