24 Warga Diamankan

371

Tiga di Antaranya Perangkat Desa


TEMANGGUNG—Tawuran antarwarga desa yang melibatkan dua kabupaten—yakni Wonosobo dan Temanggung—berakhir di sel tahanan. Seperti diketahui, bentrok terjadi antara warga Desa Banaran, Kecamatan Bansari, Temanggung versus Desa Kalikuto, Kecamatan Kertek, Wonosobo.
Polres Temanggung menahan 24 orang. Tiga di antaranya, perangkat Desa Kalikuto. Mereka kini menjalani pemeriksaan di Mapolres.
Pantauan koran ini kemarin, pasca-bentrokan, suasana Desa Banaran telah kondusif. Warga sudah beraktivitas seperti biasa.
Dari 24 orang ditahan, statusnya masih sebagai terduga. Polisi masih intensif melakukan penyidikan.
“Kami masih melakukan pemeriksaan untuk memastikan mereka sebagai tersangka. Saat ini mereka kami periksa sebagai saksi,” kata Kapolres Temanggung, AKBP Dwi Indra Maulana.

Indra menyebut, dari 24 orang yang diamankan, 21 di antaranya merupakan warga biasa. Sedangkan tiga lainnya, tercatat sebagai perangkat Desa Kalikuto, Kecamatan Kertek. Pemeriksaan dilakukan, untuk mengungkap pelaku pengrusakan rumah warga Desa Banaran yang menjadi korban kerusuhan.
Selain memeriksa para saksi, penyidik juga memanggil dua warga Desa Banaran, Kecamatan Bansari. Status mereka sebagai saksi.
“Kami juga memanggil dua saksi dari Banaran, Kecamatan Bansari  untuk kepentingan penyidikan terkait kasus tersebut.”
Keterangan saksi dibutuhkan, karena penyidik fokus pada perusakan rumah milik Panggung Santoso. Sejauh ini, lanjut Indra, pihaknya menduga, keterlibatan dua orang sebagai pelaku pengrusakan.

“Mereka semua kooperatif, bahkan satu orang dari mereka telah secara terbuka mengaku melakukan aksi pengrusakan. Akan kami periksa dan dalami kasus ini. Jika sudah cukup bukti dan saksi, maka akan kita tetapkan tersangka.”
Soal keberadaan para perangkat Desa Kalikutho di lokasi kejadian, Indra menyampaikan, mereka hendak mengamankan situasi, agar warganya yang tengah terbakar amarah, tidak melakukan hal-hal anarkistis.
Ditanya perihal rumah Panggung Santoso yang menjadi sasaran pengrusakan warga Kalikutho, AKBP Indra menyatakan, hal itu bermula dari kesalahpahaman. Warga ngamuk, karena mereka tidak bertemu dengan sang pemilik rumah.

Sembari menunggu proses lanjutan pemeriksaan, kepolisian telah menyiapkan pasal yang akan menjerat mereka.
Salah satunya, pasal 170 KUHP tentang kekerasan terhadap orang maupun barang yang dilakukan secara bersama-sama, di muka umum. “Kami sedang memprosesnya terlebih dahulu.” (zah/isk)