Dibuat Gelang, Kalung hingga Sandal dan Tas

473

Ita Yulicha, Sulap Kain Perca Batik Jadi Aneka Aksesori

Kain perca atau sisa jahitan di tangan Ita Yulicha bisa menjadi karya seni bernilai ekonomis tinggi. Warga Jalan Pergiwati RT 5 RW VI, Bulu Lor, Semarang Utara ini menyulap kain perca khususnya kain batik menjadi kalung, gelang, cincin, bros, sandal, hingga tas. Seperti apa?

EKO WAHYU BUDIYANTO, Bulu Lor

KAIN perca kerap hanya dibuang begitu saja. Kalau toh dimanfaatkan, paling hanya dipakai buat menambal baju atau celana yang robek. Namun bagi Ita Yulicha, kain sisa jahitan itu bisa dimanfaakan menjadi barang yang bernilai tinggi.
”Saya sering melihat sisa kain, khususnya kain batik yang berserakan di tempat penjahit. Saat itu saya berpikiran untuk membuat suatu karya seni yang berasal dari kain perca tersebut,” kata Ita Yulicha saat ditemui Radar Semarang di rumahnya, Selasa (27/5).
Sebelum membuat aneka aksesori dari kain perca, Ita lebih dulu membuat busana batik. Ia suka batik, karena dirinya terpikat dengan keeksotisan warisan budaya nenek moyang tersebut. Bermodal kemampuannya menjahit, alumnus jurusan Manajemen STIE Pelita Nusantara ini pun mulai membuat model-model busana batik. Untuk menambah model baju yang dibuat, Ita kerap mengamati desain-desain baju di majalah atau katalog fashion. ”Saya banyak membeli buku dan majalah fashion agar model karya saya tetap up to date,” ujarnya.
Nah, baru pada 2011, Ita tak hanya mendesain busana batik. Ia mulai tertarik mendesain aksesori penunjang penampilan busana batik dengan memanfaatkan kain perca. Kain sisa potongan sampai bagian terkecil baginya sayang jika harus dibuang begitu saja. ”Daripada dibuang, mending diolah kembali menjadi barang ataupun aksesori yang bernilai seni tinggi,” katanya.
Limbah kain batik itu secara otodidak ia sulap menjadi aneka aksesori, antara lain kalung, gelang, cincin, bros, sandal, hingga tas. Ternyata saat dipadupadankan dengan busana batik yang ia desain sendiri, hasilnya sangat bagus. ”Untuk mendapatkan kain perca batik, setiap beberapa hari sekali saya selalu mengunjungi penjahit-penjahit baju di Semarang, dan berharap di situ ada kain perca batik yang dapat saya manfaatkan,” ujarnya.
Dengan modal pertama Rp 25 juta, ia mulai menekuni bidang pembuatan pernak-pernik tersebut. ”Saya ingin menjadi pionir pernak-pernik batik di Semarang, karena saya melihat Semarang belum ada yang membuat seperti yang saya lakukan sekarang,” katanya.
Menurutnya, hal tersebut merupakan sebuah potensi yang nantinya akan bermanfaat positif untuk Kota Semarang sendiri. ”Saya ingin perca batik menjadi oleh-oleh khas Semarang,” ucapnya. Harga yang ia banderol untuk setiap aksesori karyanya bervariasi. Mulai Rp 15 ribu hingga Rp 200 ribu.
Untuk mengenalkan produknya, Ita kerap mengikuti pameran-pameran di mal maupun tempat-tempat keramaian lainnya. Dari situ, produknya mulai dikenal masyarakat. Pesanan pun semakin deras mengalir. Namun Ita mengaku kewalahan soal sumber daya manusianya. Sebab, hingga kini ia belum menemukan SDM yang dapat membantunya untuk memproduksi aksesori dalam jumlah yang besar. Ia mengaku hingga kini produksi aksesorinya hanya ia lakukan sendiri. ”Sangat sulit mencari SDM yang sesuai dengan kriteria maupun yang benar-benar punya jiwa seni tinggi,” katanya.
Ia mengatakan, bukan hanya nilai ekonomis saja yang dikejar, namun keindahan dan keorisinalan karyanya harus tetap dinomorsatukan. Untuk pemasaran, Ita mengaku untuk sementara hanya melayani pembelian di rumahnya, Jalan Pergiwati RT 5 RW 6, Bulu Lor, Semarang Utara. Saat ini, ia juga aktif dalam komunitas handycraft yang sering mengadakan pelatihan di salah satu mal di Jalan Pemuda Kota Semarang. (*/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.