Penambangan Pasir Kali Apu Dikeluhkan

340

BOYOLALI–Menyusul ditutupnya penambangan pasir lereng Gunung Merapi wilayah Magelang, banyak penambang yang pindah ke Kali Apu, Kecamatan Selo, Boyolali. Kondisi ini dikeluhkan warga Desa Tlogolele. Warga waswas, lantaran penambangan pasir bakal merusak sumber air bersih di sepanjang aliran sungai tersebut.
Kepala Desa (Kades) Tlogolele, Muhammad Hadi Widodo mengatakan, beberapa pekan belakangan ini kegiatan penambangan pasir di Kali Apu membeludak. ”Penambangan pasir di Kali Apu ini semakin banyak. Mungkin saja pindahan dari Magelang,” ungkapnya, saat dihubungi kemarin (28/5).
Menurut dia, penambahan penambang tidak diketahui jumlahnya. Pasalnya, tidak ada laporan yang masuk ke pemerintah desa setempat. Dengan kondisi ini, warga menjadi waswas lantaran kegiatan itu bakal merusak lingkungan sekitar sungai, terutama sumber-sumber air bersih yang berasal dari Kali Apu.
Lantaran banyaknya jumlah penambang, dikhawatirkan mereka tidak hanya menambang di dasar sungai. Namun juga akan mengikis tebing-tebing sungai sepanjang Kali Apu. Padahal di tebing tersebut banyak sumber air bersih yang dimanfaatkan warga. Sedangkan air bersih itu mayoritas di memanfaatkan adalah warga Desa Tlogolele dan Klakah.
Warga khawatir, jika nanti terjadi banjir lahar dingin, bantaran sungai itu akan mudah longsor. Kondisi itu juga akan menutup sumber air yang ada di bawah tebing. ”Kalau sudah begitu, airnya jadi mampet. Belum lagi pipa pipa paralon yang rusak akibat tertimpa longsoran itu,” tandas dia.
Selain itu, membeludaknya truk pengangkut pasir ini juga membuat jalan menjadi macet. Lebar jalan tidak seimbang dengan jumlah truk yang melintas. Padahal, jalan tersebut merupakan satu-satunya jalur evakuasi warga. Pihaknya berharap, Pemkab Boyolali mengatasi hal tersebut.
Kondisi ini mendapat perhatian dari kalangan DPRD Boyolali. Anggota Komisi IV Agus Ali Rosidi sangat menyayangkan kondisi itu. ”Memang untuk saat ini kondisinya belum berbahaya. Tapi kalau dibiarkan, akan terakumulasi, dan dapat membuat kerusakan yang akan membahayakan lingkungan,” jelasnya.
Mumpung belum telanjur, pihaknya meminta pemkab memberikan pembinaan kepada para penambang dan pengusaha galian C itu. ”Jangan sampai mengabaikan efek samping penambangan. Utamanya, jalan di kawasan tersebut merupakan jalur evakuasi warga saat terjadi bencana Merapi,” kata dia. (wo/un/ida)