Polisi Bidik Provokator

288



TEMANGGUNG—Penyidik Satuan Reskrim Polres Temanggung masih mendalami pemeriksaan 24 terduga pelaku tawuran masal yang terjadi di Desa Banaran, Kecamatan Bansari, Temanggung, pada Minggu (24/5) lalu.
Sejumlah warga telah mengakui perbuatannya. Polisi pun sudah menetapkan mereka sebagai tersangka. Sebagian lainnya, belum. Semua tersangka merupakan warga Desa Kalikuto, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo. Para tersangka dijerat pasal 170 KUHP, karena merusak rumah seorang warga Desa Banaran.
Polres mengklaim bersikap hati-hati terkait penetapan status tersangka. Kini, polisi masih intensif mendalami keterangan warga, untuk membidik calon tersangka yang bertindak sebagai provokator bentrokan.
Kepala Polres Temanggung AKBP Dwi Indra Maulana mengatakan, pihaknya masih melakukan pemeriksaan saksi-saksi. Namun, ia mengklaim belum ada tersangka terkait kasus tersebut. “Mereka yang kami tangkap juga kami periksa sebagai saksi, selain saksi korban.”
Maulana menjelaskan, pihaknya belum bisa memastikan seluruh warga Kalikuto terlibat. Namun, dari keterangan sejumlah saksi, Maulana yakin bahwa pemeriksaan akan mengerucut pada nama tersangka berikut peran yang dilakukan. “Kita periksa satu per satu. Beberapa memang sudah mengakui perbuatannya,” tambahnya.

Dikatakan, tiga warga Desa Banaran, Kecamatan Bansari, Temanggung, juga telah diperiksa sebagai saksi. Meski begitu, pihaknya mengaku tidak terburu-buru untuk menetapkan 24 orang sebagai tersangka. Termasuk, 3 perangkat Desa Kalikuto. “Kita harus teliti dalam menetapkan tersangka.”
Sementara itu, beredar kabar bahwa luapan emosi warga Kalikuto yang menggeruduk warga Desa Banaran, karena tiga warga mereka menjadi korban penganiayaan warga Banaran.
Perkelahian yang menjadi sebab tawuran, berlangsung di Desa Kentengsari, Kecamatan Bansari. Tepatnya, antara pemuda Desa Kalikuto dan Desa Banaran. Tiga warga Kalikuto dikabarkan mengalami luka bacok. Saat ini, ketiganya tengah dirawat di sebuah rumah sakit di Wonosobo. “Ada tiga orang yang terluka,” kata Camat Kertek, Mukamad Najib.

Najib mengklaim, pihaknya akan berupaya melakukan rekonsiliasi untuk mencapai perdamaian antar-kedua belah pihak. Tujuannya, untuk meminimalisasi terjadinya konflik susulan.

“Selaku orang tua, saya juga akan memberikan pengertian sama masyarakat, ndak usah begitu lagi, ndak usah dendam-dendam lagi. Begitu juga yang dari Temanggung untuk menyadari, kekhilafan yang ada di tontonan seperti itu, emosi susah dikontrol biasanya,” tandasnya. (zah/isk)